Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 8 Agustus 2017 | 11:34 WIB
  • Sarkasme Bisa Dideteksi dengan Emoji

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Sarkasme Bisa Dideteksi dengan Emoji
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi emoji.

VIVA.co.id – Ikon ekspresi emoji bisa membantu ilmuwan melatih komputer dengan perangkat lunaknya untuk memahami kritikan pedas (sarkasme).

Peneliti Iyad Rahwan berhasil membuat algoritma yang mampu mendeteksi sarkasme dan secara umum mengetahui konteks emosi yang ingin kita bagikan.

Iyad melatih algoritma yang dinamakan DeepMoji ini mengumpulkan 55 miliar kicauan, dan menyeleksi 1,2 miliar yang mengandung kombinasi dari 64 emoji populer.

Menurutnya, cara ini memungkinkan untuk menemukan ujaran kebencian lebih cepat daripada yang dilakukan manusia.

Ia pun membuktikannya dengan 'mengajarkan' algoritma guna mengidentifikasi sarkasme menggunakan sekelompok data contoh.

DeepMoji diujicoba untuk melawan manusia, dengan cara meminta sukarelawan menemukan kicauan bernada sarkasme dan emosi lainnya.

Alhasil, DeepMoji memiliki akurasi 82 persen, lebih baik dibandingkan akurasi manusia yang hanya 76 persen.

"Langkah ini juga bisa digunakan untuk memperbaiki interaksi manusia dengan program cerdas seperti chatbots," katanya, dikutip BBC, Selasa, 8 Agustus 2017.

Ilmuwan keturunan Suriah-Australia ini mengungkapkan, rahasia untuk melatih algoritma yang menggunakan metode deep learning ini adalah banyaknya kicauan yang menggunakan sistem pelabelan emosi yang telah populer, emoji.

Dengan menggunakan bantuan dari sistem ini untuk membaca kicauan bermuatan emosi secara umum, para peneliti selangkah lebih maju untuk mengajarkan algoritma mereka cara mengenali sarkasme.

Sementara itu, Kerstin Dautenhahn, ilmuwan yang mempelajari interaksi manusia dan mesin dari Universitas Hertfordshire, menjelaskan, menggunakan emoji sebagai label untuk melatih jaringan syaraf tiruan adalah ide bagus.

Alasannya, karena komunikasi melalui media sosial seperti Twitter jauh lebih buruk daripada percakapan tatap muka sebenarnya. "Di sinilah fungsi algoritma bekerja," ungkapnya.