Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 19:52 WIB
  • Tiga Hal Mungkinkan Drone Berubah Jadi Mata-mata

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia,
    • Mitra Angelia
Tiga Hal Mungkinkan Drone Berubah Jadi Mata-mata
Photo :
  • dok.ist
Drone

VIVA.co.id – Perangkat drone dikabarkan cukup mengancam kedaulatan sebuah negara jika dijadikan salah satu alat pertahanan. Setidaknya ada tiga hal yang memungkinkan sebuah drone bisa dijadikan alat penyusupan atau mata-mata.

Hal ini dikatakan oleh peneliti drone dari Universitas Gunadarma, Akbar Marwan. Dia mengatakan, kerentanan sebuah drone untuk menjadi alat mata-mata memang kerap dibahas oleh para ahli teknologi informasi. Tak hanya rentan diserang hacker, tapi juga bisa mendukung aktivitas mata-mata.

"Kalau pilot menggunakan aplikasi, seperti DJI GO 4 dan mengunggah catatan penerbangan ke server DJI, dengan menggunakan setting default di aplikasi, ada banyak detail yang terkait dengan misi drone tersebut. Detail tersebut adalah telemetri, video, dan audio," ujar Akbar di Jakarta, Rabu, 9 Agustus 2017.

Dijelaskan Akbar, telemetri merupakan kondisi ketika pesawat tak berawak itu diterbangkan, termasuk koordinat GPS, ketinggian, kecepatan, dan rincian kinerja pesawat lainnya.

Sementara itu, video, saat direkam, versi video thumbnail juga disediakan untuk DJI yang menunjukkan rekamannya. Terakhir, saat menggunakan ponsel atau tablet, rekaman mikrofon untuk semua percakapan dan suara juga disertakan dengan file cache video. Jika sensor memiliki mikrofon, drone juga berbagi audio.

"Kombinasi ketiga data di atas menghasilkan catatan lengkap setiap penerbangan yang diambil oleh drone menggunakan aplikasi DJI dan Drone. Informasi ini, katanya, disimpan di server DJI di Amerika Serikat, China, dan Hong Kong," katanya.

Diakui oleh Akbar, informasi detail seperti telemetri, audio, dan video, yang didapatkan oleh drone, sangat diperlukan oleh pilot dalam melakukan misi menggunakan drone, siapa pun pembuatnya, tak hanya DJI. Namun antisipasi pemindahan informasi tanpa izin oleh aplikasi dan drone masih bisa dilakukan dengan beberapa cara.

"Misalnya, dengan menggunakan aplikasi sejenis yang sudah melakukan blocking terhadap transfer data ke internet," kata Akbar.

Sebelumnya diberitakan jika militer Amerika Serikat memutuskan untuk tidak lagi menggunakan drone buatan DJI. Perangkat nirawak itu katanya rentan disusupi hacker untuk jadi mata-mata.

Pihak DJI mengaku terkejut dengan keputusan US Army tersebut. Mereka mengaku keputusan itu dikeluarkan secara tiba-tiba dan tanpa pembahasan terlebih dulu bersama mereka.

"Kami terkejut dan kecewa membaca laporan dari US Army terkait drone DJI, sebagaimana kami tidak diajak berkonsultasi selama pengeluaran keputusan. Kami sangat senang bisa bekerja sama secara langsung dengan organisasi, termasuk US Army, jika ada masalah," tulis DJI.