Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 16 Agustus 2017 | 17:02 WIB
  • Surabaya 'Ibu Kota' E-Commerce, DKI Tetap Tempat 'Basah'

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Surabaya 'Ibu Kota' E-Commerce, DKI Tetap Tempat 'Basah'
Photo :
  • www.pixabay.com/geralt
Ilustrasi e-commerce

VIVA.co.id – Baru-baru ini, situs pencarian Google bersama lembaga riset Gesellschaft für Konsumforschung atau GfK menyebutkan Jakarta bukan lagi sebagai 'ibu kota' bagi marketplace dan e-commerce. Menurut riset tersebut, Kota Surabaya, Jawa Timur, menggeser tren e-commerce dari Jakarta.

Data riset tersebut menunjukkan, Surabaya menduduki peringkat pertama dengan 71 persen, Medan 68 persen, dan Jakarta 66 persen, Bandung 63 persen, Semarang 59 persen, dan Makassar 52 persen. Selain itu, dari segi waktu menggunakan platform, Surabaya juga lebih unggul dari Jakarta. Waktu yang dihabiskan dalam sehari mencapai 5,8 jam, sedangkan Jakarta hanya 4,7 jam.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Aulia E. Marinto mengatakan, Jakarta akan tetap menjadi ‘tempat basah’ bagi bisnis e-commerce di Indonesia. Mengingat Jakarta adalah Ibu Kota Indonesia, maka dari itu tren berbelanja daring di kota ini akan tetap berkembang.

"Survei itu dilakukan dari waktu ke waktu. Wong di sini Ibu Kota kok, penduduknya lebih padat dibanding Surabaya. Walaupun, kalau lebih besar dari Surabaya, dari waktu ke waktu bisa berubah juga. Jadi, survei itu kita perlukan hanya untuk melihat kota-kota yang bertumbuh, itu penting. Tapi kalau untuk kemudian mengalihkan, ya jangan berpikiran begitu. Apa lagi Jakarta (sebagai) Ibu Kota," ucapnya di Jakarta, Rabu 16 Agustus 2017.

Meski demikian, Aulia menegaskan, tren belanja daring memang sudah semakin heboh di kota-kota besar di Indonesia, terlebih di pulau Jawa. Bahkan, ada satu situs e-commerce yang penggunanya mayoritas berasal dari luar Jawa, meski bisnis operasionalnya berada di Jakarta, Bandung atau Yogyakarta..

"Untuk tren, kita belum ada data. Tapi untuk antusiasmenya, kita bisa lihat kota seperti Jogja dan Bandung. Ada satu e-commerce yang usernya lebih banyak dari luar Jawa," ungkapnya.

Menurutnya, faktor penyebab berkembangnya berbelanja daring bermacam-macam. Intinya, masyarakat harus mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan internet dari pemerintah daerah masing-masing. Agar ke depannya, warga setempat bisa bijak dan lebih efisien waktu. 

"Yang mendasari banyak sedikitnya pengguna e-commerce macam-macam, (mulai dari) literasi internet, pemahaman terhadap e-commerce, sosialisasi, knowledge, termasuk dengan kampanye daerah setempat. Kalau Pemda aktif mengampanyekan digital ekonomi dan e-commerce, warganya akan aware. Ini bukan kerjaan kita semata-mata, itu kerjaan semua orang," tegasnya.