Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 21 Agustus 2017 | 14:39 WIB
  • Nyamuk Bisa Dibuat Ogah Gigit Manusia, Tapi ada Risikonya

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Mitra Angelia
Nyamuk Bisa Dibuat Ogah Gigit Manusia, Tapi ada Risikonya
Photo :
  • Pixabay/Nuzree
Baru-baru ini tim peneliti dari Amerika Serikat membuat nyamuk mutan.

VIVA.co.id – Para ilmuwan sedang berupaya mencegah penyebaran nyamuk penyebab infeksi penyakit. Salah satunya dengan merekayasa genetika nyamuk, yang menjadi vektor pembawa infeksi.

Salah satu yang menjadi sorotan penyakit infeksi adalah penyakit malaria. Baru-baru ini tim peneliti dari Amerika Serikat membuat nyamuk mutan. Ini nyamuk vektor penyakit malaria yang direkayasa genetiknya.

Mereka mengubah atau mematikan reseptor bau yang merangsang bau manusia. Jika diganti, maka akan diganti dengan reseptor bau pada hewan lain. Jadi, nyamuk vektor dibuat tidak suka mengigit manusia, jadi cuma mau gigit hewan.

Peneliti Balai Bioteknologi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Danang Waluyo, menanggapi bahwa hal itu tidak efektif untuk kelangsungan hidup nyamuk. Bahkan, akan berdampak buruk pada ekosistem nyamuk.

"Pengendalian vektor hanya diarahkan agar tidak menginfeksi manusia atau preventif. Memang dengan berbagai cara, tetapi nyamuk itu adalah bagian dari ekosistem, kalau diberantas maka akan goyang," ujar Danang kepada VIVA.co.id, Senin 21 Agustus 2017

Ganggu Ekosistem

Ia kembali menjelaskan nyamuk hanya bertindak sebagai vektor. Oleh karena itu, lebih baik yang harus diatur dan dikendalikan adalah parasit yang menyerang manusia.

"Kalau rekayasa genetik akan menganggu ekosistem," ungkapnya. Danang menambahkan, BPPT tengah fokus mencari obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit malaria.

Sebab, obat yang sudah tersedia sedang ditemukan sudah ada yang resisten. Obat itu ialah Artemisia Annua, tanaman yang berasal China.

"Tapi ditemukan satu kasus yang resisten (terhadap Artemisia Annua)," tuturnya. Ia memandang bahwa resistensi merupakan sesuatu yang krusial, karena, pengobatan alternatif lainnya harus segera ditemukan apabila resisten sudah terjadi.

Terlebih, lanjut Danang, penyakit malaria tergolong penyakit yang paling banyak menginfeksi penduduk Indonesia. (ren)