Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 22 Agustus 2017 | 15:30 WIB
  • Gawat, Twitter Bisa Membuat Anak Buta Huruf

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Gawat, Twitter Bisa Membuat Anak Buta Huruf
Photo :
  • www.pixabay.com/Mizter_x94
Ilustrasi Twitter.

VIVA.co.id – Howard Jacobson, novelis dan jurnalis Inggris, mengatakan bahwa sifat komunikasi telah berubah secara dramatis sejak munculnya media sosial dan ponsel pintar (smartphone).

Hal ini menyebabkan anak muda kehilangan keinginannya untuk membaca buku. Ia juga mengungkapkan, di masa depan, anak-anak bisa buta huruf akibat dominasi penggunaan Twitter dan platform media sosial lainnya.

Novelis pemenang Man Booker Prize ini mengatakan kalau dirinya tidak bisa lagi fokus pada sebuah buku, lantaran konsentrasinya beralih ke gawai (gadget).

"Dalam 20 tahun terakhir, kita akan memiliki anak yang tidak bisa membaca dan tidak mau membaca. Saya pribadi tidak bisa lagi membaca lagi seperti dulu. Konsentrasi saya telah 'ditembak' olehnya (gadget). Oh Tuhan, saya tidak bisa melakukannya lagi sekarang. Saya ingin ruang, ingin lembar baru," katanya, seraya mengeluh, mengutip The Independent, Selasa, 22 Agustus 2017.

Jacobson juga memperingatkan bahwa Twitter 'telah jatuh ke tangan' Presiden Amerika Serikat Donald John Trump. Olehnya, Trump dicap sebagai pihak yang mengeksploitasi saluran berita yang hanya disukai oleh kaum elit.

Ia pun mengacu pada data dari US Endowment for the Arts, di mana terjadi penurunan standar pendidikan di seluruh negara Barat. Presentase orang dewasa Amerika yang membaca literatur tahun lalu berada pada tingkat terendah sejak survei dimulai pada 1982.

Data juga mengungkapkan, hanya 43 persen orang-orang Barat yang masih gemar membaca buku, atau setidaknya, satu buku pada tahun sebelumnya. Selain itu adanya peningkatan jumlah waktu yang digunakan oleh kaum muda untuk berseluncur di dunia maya (browsing).

Anak-anak usia 5 sampai 15 tahun, menghabiskan rata-rata 15 jam dalam satu minggu untuk browsing. Hal ini diperparah dengan peluncuran iPhone pada 2007 yang membuat kalangan remaja semakin menurun minat membaca buku dan menghabiskan waktu dengan temannya untuk berbincang tatap muka.