Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 28 Agustus 2017 | 17:08 WIB
  • Saracen Diyakini Bukan Satu-satunya, Masih Banyak yang Lain

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Mitra Angelia
Saracen Diyakini Bukan Satu-satunya, Masih Banyak yang Lain
Photo :
  • ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Aksi Kampanye Anti Hoax di Jakarta beberapa waktu lalu.

VIVA.co.id – Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia atau BRTI, Agung Harsoyo, meyakini kasus serupa kelompok Saracen bukanlah yang pertama. Agung meyakini masih banyak pemain lain di Indonesia seperti kelompok Saracen, tapi belum terungkap.

"Yang namanya platform, itu kan bisa dimasukin apa saja. Alaminya manusia, ada yang kreatif membuat hal baik, ada juga yang sebaliknya," ujar Agung usai diskusi Indonesia Technology Forum (ITF) dengan tema 'Menagih Langkah Nyata Industri Telekomunikasi dan OTT Menghadapi Dampak Negatif', di Balai Kartini, Jakarta Senin, 28 Agustus 2017.

Kasus seperti Saracen seperti menjadi ladang bisnis, karena memang ada permintaan berbagai pihak untuk konten-konten tertentu. Belum lagi, kelompok penyedia jasa konten negatif itu diuntungkan dengan masyarakat yang doyan menelan mentah berita yang tersebar.

"Jadi wajar saja kalau kemudian lahir industri konten hoax dan SARA. Saat ini yang tertangkap baru satu, tapi saya yakin di luaran sana pasti masih banyak yang seperti itu," ungkapnya.

Pekan lalu tim Polri membekuk tiga tersangka yang diduga pengurus dari grup Saracen. Di antaranya, pria berinisial MFT (43) ditangkap di Koja, Jakarta Utara, 21 Juli 2017 dan pria berinisial JAS (32) ditangkap di Pekanbaru, Riau, 7 Agustus 2017. Tersangka ketiga seorang wanita berinisial SRN (32), ditangkap  di Cianjur, Jawa Barat, 5 Agustus 2017.

Kelompok Saracen merupakan kelompok penyedia jasa untuk membuat hate speech atau ujaran kebencian yang bermuatan suku agama, ras dan antargolongan (SARA) dan membuatnya viral di media sosial. Kelompok ini juga menyediakan jasa penyebaran hoax bermuatan SARA di media sosial. (ase)