Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 30 Agustus 2017 | 12:06 WIB
  • Swedia Tawarkan Teknologi Kapal Selam 'Hantu' ke Indonesia

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Swedia Tawarkan Teknologi Kapal Selam 'Hantu' ke Indonesia
Photo :
  • Dok. Saab Group
Kapal Selam A26 Gotland Class mampu melaksanakan misi khusus.

VIVA.co.id – Swedia tak main-main dalam menawarkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) kepada Indonesia. Setidaknya, ada dua alat tempur terbaru yang ditawarkan oleh perusahaan pertahanan Saab AB, yakni Kapal Selam A26 Kelas Gotland dan Radar Erieye AEW&C.

Menurut Vice President Head of Saab Indonesia, Anders Dahl, perusahaan telah 100 tahun mendesain, mengembangkan, dan memproduksi kapal-kapal perang, khususnya pengembangan program kapal selam modern, A26.

Teknologi kapal selam terbaru yang dikembangkan Swedia ini memiliki kemampuan tinggal di kedalaman laut dalam waktu lama.

Selain itu, meski bukan tergolong kapal selam nuklir, A26 diklaim sebagai kapal selam siluman bertenaga diesel-listrik yang paling maju di dunia.

"Kapal selam A26 punya sistem Kockums Stirling AIP (Air-Independent Propulsion) dan teknologi 'stealth' terbaru yang diberi nama GHOST (Genuine HOlistic STealth). Ini yang membuatnya nyaris tidak terdeteksi saat di bawah air," kata Dahl kepada VIVA.co.id, Selasa, 29 Agustus 2017.

Ia melanjutkan, kapal selam diesel-elektrik dikenal dengan mesinnya yang minim suara, tetapi memiliki kekurangan pada tenaga dan ketahanan.

Kekurangan ini mampu diatasi dengan sistem Kockums Stirling AIP, yang menggunakan oksigen cair dan bahan bakar simpanan untuk menghasilkan energi di dalam air.

AS pun mengakui

Teknologi ini, lanjut Dahl, membuat A26 mampu bergerak dalam air tanpa muncul ke permukaan hingga 18 hari.

Vice President Head of Saab Indonesia, Anders Dahl.

Anders Dahl.

Sementara itu, GHOST, merupakan teknologi siluman yang material dan kontur, baik eksternal maupun internal, pada A26 disesuaikan untuk meminimalisasi pantulan suara.

Dengan begitu, sebagian besar dari gelombang suara yang mengenai lambung A26 akan diserap. Kemudian, pada bagian internal A26 juga dipasang karet peredam suara di tempat-tempat yang menghasilkan banyak suara seperti ruang mesin.

Dahl pun memiliki pengalaman mengesankan ketika kapal selam A26 mengikuti latihan gabungan antara Angkatan Laut Swedia dan Amerika Serikat pada 2005-2007.

"Saat itu kapal perang AL AS tidak mampu mendeteksi keberadaan A26. Apalagi, mereka mengerahkan kapal selam nuklir Kelas Ohio. Ini tentu reputasi A26 sudah diakui," ungkap dia.

Dahl menambahkan, Swedia bukan negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Negara itu bebas melakukan kerja sama militer dengan Indonesia 'tanpa ada tekanan'.

Seperti diketahui, akhir tahun lalu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu ditawari kapal selam dan jet tempur oleh Menteri Pertahanan Swedia Carl Anders Peter Hultqvist.

Hal ini kemudian dituangkan ke dalam nota kesepahaman bidang pertahanan atau naskah Defence Cooperatian Agreement (DCA).