Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 2 September 2017 | 19:35 WIB
  • Analisa Lapan: Satelit Telkom Sudah Jadi Sampah Antariksa

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Afra Augesti
Analisa Lapan: Satelit Telkom Sudah Jadi Sampah Antariksa
Photo :
  • www.esa.int
Ilustrasi satelit.

VIVA.co.id – Anomali atau gangguan yang terjadi pada Satelit Telkom 1 pada Jumat, 25 Agustus 2017, pekan lalu, membuat penasaran perusahaan operator asing asal Amerika Serikat bernama ExoAnalytic Solutions, Inc.

Menurut CEO ExoAnalytic, Douglas Hendrix, pihaknya telah melacak objek di orbit geostasioner (GEO) dan menemukan bukti baru bahwa satelit milik perusahaan  telekomunikasi pelat merah itu kemungkinan hancur berkeping-keping.

Perusahaan yang bermarkas di California ini menggunakan algoritma untuk meninjau data yang dikumpulkan oleh jaringan globalnya dari 165 teleskop optik untuk anomali, di mana salah satu instrumennya ada di Australia Timur, yang melihat satelit tersebut 'tampaknya terlepas'.

Menanggapi analisa tersebut, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyanggahnya. Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin menegaskan, beredarnya video yang ditampilkan oleh ExoAnalytic Solution di platform YouTube mereka adalah salah dan tidak benar telah terjadi kebocoran pada tangki bahan bakar dari roket kendali Telkom 1.

"Video itu tidak menggambarkan Telkom 1 hancur. Video itu menunjukkan adanya semburan yang saya duga kebocoran bahan bakar roket kendalinya. Tidak ada pecahan satelit. Karena adanya semburan itu, tampaknya sikap satelit berubah, yang menyebabkan hilangnya komunikasi dengan sekian banyak VSAT yang digunakan ATM," ujar Thomas melalui pesan singkatnya kepada VIVA.co.id, Sabtu, 2 September 2017.

Dia menjelaskan bahwa objek di sekitar Telkom 1, bukan pecahan satelit, tetapi bintang-bintang yang tampak bergeser (drift) karena teleskop diset mengikuti gerak satelit. Karena kebocoran bahan bakar itu, pusat kendali Telkom 1 tidak bisa lagi mengubah sikap satelit, walau komunikasi pusat kendali dengan satelit masih bisa dilakukan.

Karena satelit tidak mungkin lagi dikendalikan, maka Telkom memutuskan untuk mematikan sistem pada satelit tersebut. Artinya, operasional Telkom 1 secara resmi dihentikan. Thomas pun menegaskan bahwa Telkom 1 kini sudah menjadi sampah antariksa. Meski demikian, apabila video itu dicermati, memang terlihat seperti ada serpihan yang terlepas dan ada bagian yang pecah, yang ia duga terkait dengan semburan tersebut.

"Ya, bahan bakar roket kendali itu adalah bagian dari Telkom 1," ujarnya.

Sebelumnya, ExoAnalytic melacak sekitar 2.000 obyek di orbit geostasioner, beberapa di antaranya ukurannya kecil sekitar 20 sentimeter. Dari jumlah tersebut, sekitar seperempatnya merupakan satelit - gabungan milik militer, cuaca, dan komunikasi - dan sisanya adalah puing-puing.

Menurut Hendrix, peristiwa puing 'tidak terkendali' di orbit geostasioner relatif jarang terjadi. Walaupun ada kekhawatiran bahwa dirinya mungkin akan semakin terbiasa menyaksikan lebih banyak satelit di wilayah yang maha luas dan berharga ini.