Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 September 2017 | 15:50 WIB
  • Pengeluaran Iklan Digital di RI Masih Kalah dari Singapura

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
Pengeluaran Iklan Digital di RI Masih Kalah dari Singapura
Photo :
  • Viva.co.id/Sarie
John Kerr, Global Chief Digital Officer, Managing Director of Asia-Pacific Zeno

VIVA.co.id – Penetrasi digital di Indonesia sudah semakin besar dan menjadi pasar yang potensial bagi industri pemasaran konten. Bahkan survei eMarketer menyebut Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara (SEA) yang memiliki potensi besar sampai 2020 nanti.

Berdasarkan data tersebut, ada satu hal yang membuat ahli content marketing bertanya-tanya. Pasalnya, dalam data yang disebutkan eMarketer, pengeluaran untuk pemasaran konten di Indonesia masih kalah jauh ketimbang Singapura. Padahal pengguna internet di Indonesia masih lebih banyak daripada Singapura.

"Total pengeluaran iklan di Singapura sekitar USD1,58 miliar dengan 23,8 persen dialokasi ke iklan digital. Sedangkan Indonesia memiliki pengeluaran iklan total US$2,8 miliar namun iklan digitalnya hanya berkisar 17,1 persen. Jika menyalahkan penetrasi internet di Indonesia yang belum merata, itu tidak beralasan. Pengguna internet di Indonesia mencapai 130 juta orang sedangkan Singapura sekitar 4,8 juta. Apa yang salah," ujar John Kerr, Global Chief Digital Officer dan Managing Director of Asia-Pacific Zeno Group kepada VIVA.co.id beberapa waktu lalu.

Namun, menurut Kerr, jika dilihat prediksi pada 2020, total pengeluaran iklan di Indonesia mencapai US$3,46 miliar sedangkan Singapura hanya US$1,62 miliar. Dari angka tersebut, Indonesia akan mengalokasikan sekitar 21,5 persen ke iklan digital, sedangkan Singapura sekitar 30,8 persen dari total pengeluaran di negaranya.

"Angka ini memang masih mengindikasikan pengeluaran iklan digital yang kecil di Indonesia namun pertumbuhannya lebih besar dibanding Singapura. Pengeluaran iklan digital di Indonesia tumbuh lebih dari 50 persen selama 3 tahun ke depan, dari US$480 juta menjadi US$750 juta di 2020," kata Kerr.

Search dan Banner

Kerr yakin prediksi ini menunjukkan potensi yang besar menanti para vendor di industri pemasaran konten sampai 10 tahun mendatang. Apalagi untuk iklan digital berbasis smartphone (mobile ads).

"Sampai hari ini, iklan digital di Indonesia masih banyak dikeluarkan untuk Search dan Banner. Tapi pada 2020 nanti, proporsi yang besar akan dikeluarkan untuk konten, seperti native, sponsored ads dan in-app ads," kata Kerr. Dia pun yakin bahwa pasar pemasaran konten di Indonesia akan memasuki masa “matang” dalam kurun 10 tahun ke depan.

Kerr juga meyakinkan platform Facebook sebagai sarana pemasaran yang potensial dibanding media sosial lainnya. Menurut dia, Facebook memiliki segala tools yang dibutuhkan oleh pegiat pemasaran konten, dan pasarnya pun tersedia. (ren)