Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 September 2017 | 17:24 WIB
  • Jakarta dan Bali Dibidik Jadi Pusat Inovasi dan Teknologi

  • Oleh
    • Antique,
    • Agus Rahmat
Jakarta dan Bali Dibidik Jadi Pusat Inovasi dan Teknologi
Photo :
  • VIVAnews/Fernando Randy
Mari Elka Pangestu Kunjungi Redaksi VIVA.co.id.

VIVA.co.id – Singapore University of Technology and Design (SUTD) menandatangani nota kesepahaman dengan perguruan tinggi teknologi tertua dan ternama Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Yayasan Upaya Indonesia Damai, United in Diversity Foundation (UID), yang didirikan untuk para pemimpin Indonesia dari sektor bisnis, pemerintahan dan masyarakat madani, guna menghadapi beragam tantangan di wilayah Indonesia dan regional.

Kerja sama tri partit ini dengan jelas menunjukkan semangat kerja sama antara publik dan swasta dalam sektor pendidikan dan bisnis antara kedua negara untuk menghadapi tantangan baru yang ditimbulkan oleh transformasi teknologi.

Kolaborasi ini ditandatangani pada momentum yang tepat, bersamaan dengan perayaan hubungan bilateral yang erat antara Singapura dan Indonesia yang ke-50 tahun. Kemitraan dengan ITB memupuk kesadaran dan kepekaan budaya antara komunitas akademisi ITB dan SUTD, serta meningkatkan wawasan para dosen dan mahasiswa tentang lingkungan makro-ekonomi yang lebih luas, baik di Singapura maupun di Indonesia.

Kemitraan dengan Yayasan Upaya Indonesia Damai, UID menambahkan dimensi baru, di mana dosen dan mahasiswa dari SUTD dan ITB berkesempatan untuk berkontribusi dalam pengembangan masyarakat, dan para calon pemimpin agar dapat menghadapi tantangan dunia di masa yang akan datang, termasuk dalam transformasi teknologi dan pembangunan yang keberlanjutan.

Nota kesepahaman lima tahun yang ditandatangani oleh Pimpinan SUTD Mr. Lee Tzu Yang, Rektor ITB Profesor Kadarsah Suryadi dan Presiden Yayasan Upaya Indonesia Damai, Presiden UID Profesor Mari Elka Pangestu dilaksanakan di Istana Negara pada hari ini, Kamis 7 September 2017.

Ini merupakan kesepakatan formal pertama antara SUTD dan dua mitra Indonesia.

Pada Nota Kesepahaman ini terdapat kerangka kerja sama untuk enam bidang utama:

• Pertukaran pendidikan dan penelitian antara SUTD dan ITB;
• Pertukaran dosen, peneliti dan post doc fellows untuk tujuan kerjasama, pengajaran dan penelitian;
• Program pasca sarjana antara SUTD dan ITB, di mana kedua perguruan tinggi akan mengkaji kesempatan untuk menjalankan program gelar ganda (double degree) tingkat Ph.D;
• Yayasan Upaya Indonesia Damai, United in Diversity Foundation (UID) akan memfasilitasi kegiatan magang untuk mahasiswa SUTD tingkat sarjana;
• Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kewirausahaan melalui beragam aktivitas, rencana pembanguanan entrepreneurship centres dan technoparks (termasuk rencana pembangunan technopark di Jakarta, Kura Kura Bali dan / ataukota – kotalainnya);
• Kegiatan bersama seperti penelitian dan kolaborasi akademis, seminar, lokakarya, publikasi, atau prakarsadan program lainnya.

Nota kesepahaman ini merupakan salah satu dari banyak kesepakatan yang ditandatangani sebagai bagian dari kolaborasi menyeluruh antara Singapura dan Indonesia untuk meningkatkan sektor pendidikan dan bisnis.

Hal ini juga akan mendukung visi Indonesia dalam mengubah pembangunan ekonomi berbasis sumber daya menjadi ekonomi berbasis teknologi, inovasi dan kreatifitas sebagai sumber pertumbuhan baru, penciptaan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing.

Presiden SUTD, Profesor Thomas Magnanti mengatakan, visi SUTD adalah secara teknis mempersiapkan para pemimpin dan inovator untuk melayani kebutuhan masyarakat, dan pihaknya berharap kemitraan dengan ITB dan Yayasan Upaya Indonesia Damai, UID ini akan membuka peluang bagi mahasiswanya untuk mencapai hal tersebut di Indonesia.

“Mahasiswa kami dapat menggunakan desain pelatihan mereka untuk mengembangkan teknologi dan solusi untuk membantu perbaikan pada beberapa area, seperti pemulihan bencana alam, kesehatan masyarakat, dan pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Melalui bimbingan Yayasan Upaya Indonesia Damai, United in Diversity Foundation, para mahasiswa juga dapat menyiapkan start-up untuk membawa inovasi mereka ke pasar, yang pada akhirnya akan memberi manfaat pada banyak orang dan membawa dunia ke arah perbaikan yang lebih baik.

Rektor ITB Profesor Kadarsah Suryadi mengatakan, di dalam dunia pendidikan tinggi sebenarnya tidak ada persaingan murni karena tidak ada satu pun perguruan tinggi yang dapat berdiri sendiri.

“Kerja sama antarperguruan tinggi diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang, agar perguruan tinggi dapat memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi di wilayahnya. Kerja sama ITB, SUTD, dan UID hanya merupakan langkah kecil bagi kita untuk maju bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden UID, Profesor Mari Pangestu berharap, kolaborasi ini akan mendukung visi UID dan Indonesia untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis teknologi (technopreneurship) dan inovasi. “Terutama, untuk memfasilitasi dan memberdayakan UKM (usaha kecil dan menengah), sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan dari teknologi terkini dan business model.”

Pendiri UID, Cherie Nursalim menambahkan, pihaknya memiliki hubungan kerja sama yang erat dengan MIT, ITB, dan SUTD. Sehingga, sangat berkeinginan membangun pusat inovasi dan teknologi di Indonesia, salah satunya di Jakarta dan Kura Kura Bali.

“Kami percaya bahwa apa yang kita tanda-tangani hari ini akan mengarah pada solusi yang berkesinambungan,” katanya.