Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 September 2017 | 12:02 WIB
  • Ikigai, Kunci Hidup Bahagia ala Negeri Samurai

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Ikigai, Kunci Hidup Bahagia ala Negeri Samurai
Photo :
  • REUTERS/Toru Hanai
Ilustrasi sejumlah warga Tokyo, Jepang, sedang beraktivitas.

VIVA.co.id – Bagi orang Jepang yang bekerja di kota-kota besar, biasanya hari kerja mereka dimulai dengan kondisi yang dinamakan sushi-zume, sebuah istilah yang mengibaratan kaum komuter yang berdesak-desakkan dalam sebuah kereta api dan membawa serta bekal mereka berupa sushi.

Budaya kerja keras Jepang yang tersohor itu memastikan kebanyakan orang akan tinggal di kantor lebih lama dan diatur dengan peraturan hirarki yang sangat ketat.

Bekerja berlebihan merupakan 'makanan sehari-hari' mereka dan ini adalah hal biasa. Lantas, bagaimana mereka bisa bertahan? Mengutip situs BBC, Jumat, 8 September 2017, rahasianya ada pada yang disebut 'ikigai', yakni sesuatu yang membuat kehidupan seseorang berharga.

Gegara ikigai, seseorang selalu bangun dan beraktivitas di pagi hari. Ikigai kerap diasosiasikan sebagai Diagram Venn dengan empat kualitas yang saling tumpang tindih.

Keempatnya yaitu apa yang Anda suka, kuasai, dibutuhkan di dunia, dan apa yang dibayar dari Anda. Akan tetapi, ide ini sedikit berbeda bagi orang Jepang. Ikigai seseorang tidak ada hubungannya dengan pendapatan.

Bahkan, dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Pusat Riset Jepang pada 2010 terhadap 2.000 orang Jepang menyebutkan hanya 31 persen yang menganggap pekerjaan sebagai ikigai.

Nilai kehidupan

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 2001 silam mengenai ikigai, penulis Akihiro Hasegawa, guru besar psikolog klinis dari Toyo Eiwa University, menempatkan kata ikigai sebagai bagian dari bahasa sehari-hari negeri Samurai itu.

Menurutnya, ikigai terdiri dari dua kata: iki, yang berarti kehidupan, dan gai, yang berarti nilai. Hasegawa juga menganalisa asal mula kata ikigai yang muncul di periode Heian (794 ke 1185 Masehi).

Gai datang dari kata kai - dalam bahasa Jepang artinya tempurung kerang - yang dianggap sangat bernilai. Dari situlah ikigai diartikan sebagai bilai kehidupan.

Ada beberapa kata lain yang menggunakan kai, yaitu yarigai atau hatarakigai yang berarti nilai perbuatan dan nilai bekerja. Ikigai dapat dianggap sebagai konsep komprehensif yang menggabungkan nilai-nilai itu ke dalam kehidupan.

Hasegawa menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, kata hidup (life) berarti seluruh masa hidup dan hidup sehari-hari. Jadi, ikigai diterjemahkan sebagai tujuan hidup yang dianggap sangat mewah.

"Namun di Jepang, kami memiliki jinsei yang berarti masa hidup, dan seikatsu yang berarti hidup sehari-hari. Orang Jepang percaya bahwa mengumpulkan kebahagiaan kecil dalam kehidupan sehari-hari akan membuat hidup lebih berarti dan penuh," kata Hasegawa.