Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 September 2017 | 16:30 WIB
  • Facebook Akui Dibayar Rp1,6 Miliar untuk Sebar Berita Hoaks

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
Facebook Akui Dibayar Rp1,6 Miliar untuk Sebar Berita Hoaks
Photo :
  • REUTERS/Thomas White
Media sosial Facebook.

VIVA.co.id – Kemenangan Donald Trump saat pemilihan presiden AS kemarin memang masih menjadi pertanyaan besar. Banyak yang menuduh Trump menang akibat 'pertolongan' berita hoaks yang dibuat oleh Rusia dan disebar di Facebook.

Selama ini memang masih tuduhan namun belakangan Facebook mengakuinya. Platform milik Mark Zuckerberg itu mengaku ada ratusan akun Facebook palsu yang kemungkinan dioperasikan dari Rusia. Ratusan akun palsu itu mengiklankan konten hoaks terkait Pemilu AS, yang mereka buat di Facebook dengan total pengeluaran US$125.500 atau setara Rp1,6 miliar.

"Jejaring sosial kami memang menerima sekitar USD100.000 untuk mengiklankan berita palsu. Berita itu dibuat untuk memecah belah warga dengan isu sensitif, seperti pernikahan sesama jenis, imigrasi, pengendalian senjata dan hubungan antarras," ujar Chief Security Officer, Alex Stamos, seperti dikutip dari News.com.au.

Meski jumlah tersebut tergolong masih kecil, namun ini memberikan sedikit bukti bahwa Rusia benar-benar mampu menpengaruhi politik di Amerika melalui media sosial. Disinyalir ada 470 akun palsu milik Rusia yang dikendalikan dari 'Ladang hoaks' di St Petersburg. Organisasi di wilayah itu diketahui memang kerap membela posisi pemerintah yang pro-Rusia.

"Secara keseluruhan, total pembelian iklan di Facebook yang dilakukan oleh para akun palsu itu sebanyak 3.000 kali, antara Juli 2015 sampai Mei 2017. Meski tidak secara lugas membahas tentang pemilu, kandidat atau voting, namun artikel yang disebar biasanya berisi pesan yang memecah belah, untuk kemudian bisa digaungkan di platform media sosial," ujar Stamos.

Selain 470 akun palsu yang dijalankan dari Rusia, Stamos juga mengatakan bahwa penyidik di Facebook menemukan tambahan dana US$50.000 untuk pengeluaran iklan di Facebook dengan durasi 2.200 kali. Akun-akun itu dipastikan berasal dari Rusia.

Selain beriklan, mereka juga menggunkan dana itu untuk membeli akun dengan alamat IP di AS untuk diatur ke dalam bahasa Rusia untuk mengelabui. (one)