Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 9 September 2017 | 06:42 WIB
  • Kecerdasan Buatan Mampu Deteksi Orientasi Seks Seseorang

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Kecerdasan Buatan Mampu Deteksi Orientasi Seks Seseorang
Photo :
  • VIVA.co.id/Arus Pelangi
Ilustrasi/Kelompok Pro Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT).

VIVA.co.id – Kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI) mampu menebak kelainan seksualitas seseorang secara akurat. Dengan kata lain, A1 bisa mendeteksi seorang homoseksual berdasarkan foto mereka.

Penelitian baru menunjukkan AI sekarang sudah dibekali dengan sensor 'gaydar', yakni kemampuan putatif homoseksual untuk mengenali satu sama lain secara intuitif atau dengan indikasi sangat sedikit, yang jauh lebih peka daripada manusia.

Penelitian dari Stanford University, seperti dikutip The Guardian 8 September 2017, mengungkapkan algoritma komputer dapat membedakan pria gay dan pria normal dengan benar. Tingkat keakurasiannya pun mencapai 81 persen dalam satu waktu.

Sedangkan, untuk penyuka sesama wanita (lesbi) dan normal, tingkat akurasi mesin mencapai 74 persen. Temuan ini memunculkan beragam pertanyaan tentang asal usul biologis orientasi seksual dan etika teknologi pendeteksian wajah.

Perangkat lunak semacam ini dianggap berpotensi melanggar privasi orang, atau disalahgunakan untuk tujuan anti-LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Kecerdasan mesin yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology dan pertama kali dilaporkan di Majalah Economist ini didasarkan pada lebih dari 35 ribu gambar wajah yang dipajang pria dan wanita di sebuah situs kencan terkemuka di Amerika Serikat.

Ciri-ciri

Dua periset, Michal Kosinski dan Yilun Wang, mengembangkan fitur ini dari gambar-gambar tersebut menggunakan 'jaringan syaraf dalam', yang berarti ada sistem matematika canggih di dalam mesin itu yang menganalisis visual berdasarkan kumpulan data.

Penelitian tersebut menemukan, pria dan wanita homoseksual cenderung memiliki roman wajah atipikal atau tidak berkarakter khas, jenis muka perawatan karena pada dasarnya pria gay tampak lebih feminin, begitu pun sebaliknya.

Data tersebut juga mengidentifikasi tren tertentu, seperti misal pria gay yang cenderung memiliki rahang sempit, hidung lebih panjang dan dahi yang lebih besar daripada pria normal.

Sedangkan, wanita lesbi dijelaskan memiliki rahang yang lebih besar dan dahi lebih kecil dibandingkan wanita normal. Penilaian manusia jauh lebih buruk daripada algoritma ini.

Bahkan, perangkat lunak tersebut bahkan lebih berhasil saat meninjau lima gambar dari satu orang, hasilnya yaitu 91 persen untuk pria dan 83 persen untuk wanita.

Secara umum, ilmuwan menyimpulkan bahwa wajah seseorang mengandung lebih banyak informasi tentang orientasi seksual mereka ketimbang apa yang ditafsirkan oleh otak manusia.

Dapat pula dikatakan bahwa orientasi seksual berasal dari paparan hormon tertentu sebelum kelahiran, yang berarti menjadi seorang homoseksual bukanlah pilihan. (ren)