Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 10 September 2017 | 12:55 WIB
  • Gara-gara China, Nilai Bitcoin Terus Anjlok

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Gara-gara China, Nilai Bitcoin Terus Anjlok
Photo :
  • REUTERS/Benoit Tessier
Uang bitcoin.

VIVA.co.id – Nilai mata uang digital, Bitcoin terus anjlok sebagai respons atas keputusan pemerintah Tiongkok berencana menutup pertukaran mata uang kripto tersebut di Negeri Tirai Bambu. Rencana penutupan pertukaran Bitcoin dan mata uang digital itu muncul dari komite regulator di Tiongkok yang mengawasi aktivitas finansial daring. 

Dikutip dari Reuters, Minggu 10 September 2017, pada awal pekan ini pemerintah Tiongkok telah melarang Initial Coin Offering (ICO). Pada prinsipnya, ICO sama halnya dengan penawaran saham perdana (Initial Public Offering). Jika IPO terkait dengan saham saja, dalam ICO, sebuah perusahaan menjual sejumlah token mata uang digitalnya. Kadang ICO disebut juga dengan token crowdsale.  

Dampak dari kabar ini, nilai tukar Bitcoin melorot. Pada Sabtu 9 September 2017, berdasarkan pantauan dari situs coinmarkecap menunjukkan, nilai Bitcoin anjlok 7,7 persen sehingga nilainya menjadi US$4.271, mata uang digital lainnya yakni Ethereum anjlok 11 persen menjadi US$293, Bitcoin Cash yang populer di Tiongkok turun 11,2 persen menjadi US$579. 

Sehari setelahnya, nilai tukar mata uang digital juga tren masih turun. Pada Minggu 10 September saat berita ini dibuat, nilai Bitcoin turun 4,5 persen menjadi US$4.046, Ethereum anjlok 5,23 persen menjadi US$278 dan Bitcoin Cash anjlok 14,92 persen sehingga nilainya menjadi US$487. 

Nilai tukar Bitcoin pada pertengahan Agustus lalu mencetak rekor, yang mana menyentuh US$4.224 atau Rp56 juta. Pencapaian ini makin naik pada 2 September, nilai Bitcoin mendekati US$5.000 atau Rp65,7 juta.

Rencana Tiongkok untuk menutup pertukaran mata uang digital belum sepenuhnya diketahui oleh pengelola pertukaran Bitcoin di Negeri Tembok Raksasa tersebut.

Reuters menuliskan tiga titik pertukaran mata uang digital, yaitu OKCoin di Beijing, BTC China di Shanghai dan Huobi di Beijing, mereka belum mendengar apa pun soal rencana penutupan pertukaran mata uang digital yang digodok pemerintah Tiongkok tersebut.

Sementara itu, Manajer Pengembangan Bisnis Perdagangan Mata Uang digital, BitMEX, Greg Dwyer mengaku bingung dengan rencana Tiongkok yang akan melarang pertukaran Bitcoin, menyusul larangan ICO.

"Jika rencana itu benar, dan kemudian aksi jual akan terjadi, bisa melihat penurunan yang lebih lanjut selama akhir pekan. Ini berarti pertukaran besar yuan harus menghentikan perdagangan," ujar Dwyer.