Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 12 September 2017 | 08:40 WIB
  • Bulu Kuduk Berdiri saat Mendengarkan Musik, Ini Penyebabnya

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Bulu Kuduk Berdiri saat Mendengarkan Musik, Ini Penyebabnya
Photo :
  • daily mail
Ilustrasi bulu kuduk berdiri atau merinding.

VIVA.co.id – Matthew Sachs, ilmuwan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, mengungkapkan penelitiannya terkait musik dan otak manusia.

Secara garis besar, Sachs menjelaskan apabila bulu kuduk seseorang berdiri ketika ia mendengarkan sebuah lagu, maka bisa dipastikan ia memiliki emosional yang baik.

Secara pribadi, Sachs pernah mempunyai pengalaman seperti ini ketika berusia 16 tahun. Waktu itu, ia merasakan badannya merinding saat mendengarkan 'Whole Lotta Love' milik Led Zeppelin di dalam sebuah bus perjalanan pulang ke rumah dari Stourbridge.

Menurutnya, mengalami sensasi seperti merinding atau kalap saat mendengarkan musik, merupakan sesuatu hal yang cukup langka dan unik. Sachs mempelajari individu yang badannya menggigil karena lantunan musik yang didengarnya.

Ia mencari tahu pemicu munculnya perasaan ini. Dalam penelitian tersebut, Sachs melibatkan 20 siswa, 10 di antaranya mengaku mengalami perasaan yang disebutkan di atas dalam kaitannya dengan musik dan 10 lainnya tidak merasakan apapun.

Kemudian, Sachs pun melakukan pemindaian otak dari keduapuluh siswa itu. Ia menemukan bahwa mereka yang berhasil membuat keterikatan emosional dan fisik terhadap musik, sebenarnya memiliki struktur otak yang berbeda dari pada yang tidak.

Isi otak mereka cenderung berserat lebih padat yang menghubungkan korteks pendengaran dan area yang memproses emosi. Ini artinya, otak dan pendengaran mereka dapat berkomunikasi dengan lebih baik.

"Kalau Anda merinding saat mendengar musik, Anda cenderung memiliki emosi yang lebih kuat dan lebih intens. Ditambah, sensasi ini juga bisa dikaitkan dengan kenangan yang ada pada lagu tersebut yang tidak bisa dikontrol dalam pengaturan laboratorium," ujarnya, dikutip situs The Independent, Selasa 12 September 2017.

Temuan Sachs ini telah dipublikasikan di Oxford Academic, Inggris. Meski penelitiannya hanya mencakup hal kecil, tetapi Sachs juga sedang melakukan penelitian lebih lanjut.

Penelitiannya kali ini akan mempelajari aktivitas otak saat mendengarkan lagu yang mengindikasikan reaksi tertentu.

Dengan demikian, ia berharap dapat mempelajari apa yang menyebabkan reaksi tersebut secara neurologis dan dapat menciptakan pengobatan untuk gangguan psikologis.

"Depresi menyebabkan seseorang menjadi sukar untuk menikmati kesenangan dalam kesehariannya. Anda bisa menggunakan musik sebagai terapis untuk mengeksplorasi perasaan," ungkapnya.