Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 27 September 2017 | 16:14 WIB
  • Korut Uji Coba Nuklir di Samudera Pasifik, Ini yang Terjadi

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Korut Uji Coba Nuklir di Samudera Pasifik, Ini yang Terjadi
Photo :
Ilustrasi ledakan nuklir.

VIVA.co.id – "Amerika Serikat telah menghina Korea Utara. Pemimpin Agung (Kim Jong-un) sedang mempertimbangkan mengujicoba bom hidrogen di Samudera Pasifik. Ini bisa jadi ledakan yang paling kuat di Pasifik.”

Itulah pernyataan resmi Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong-ho, dalam Sidang Tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

Pernyataan Ri ini sebagai tanggapan atas ancaman Presiden AS Donald John Trump untuk menghancurkan Korea Utara secara total dan menyebut Jong-un sebagai 'Manusia Rudal'.

Andaikata Korea Utara benar-benar meledakkan bom hidrogen di Samudera Pasifik, apa yang akan terjadi?

Profesor Matematika Terapan dari NYU, Oliver Bühler, mengatakan, ledakan di bawah air atau ledakan di atas tanah akibat uji coba bom hidrogen akan menciptakan ombak dan getaran.

"Keduanya sangat kuat. Pascaledakan, ombak atau getaran memancar keluar dan membawa energi ke atmosfer sebesar 140 kiloton. Ini lebih tinggi dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, yang masing-masing membawa 15 dan 21 kiloton energi," kata Bühler, seperti dikutip Motherboard, Rabu, 27 September 2017.

Kendati demikian, Bühler memastikan ombak tidak akan menyebabkan tsunami. Sebab, usai ledakan ombak akan cepat memecah atau menyebar.

Akan tetapi, partikel radioaktif akan semakin berisiko ketika berada di dekat tanah atau air. Ledakan nuklir dapat menyedot kotoran, puing, air, dan bahan lainnya serta menciptakan dampak radioaktif yang lebih luas.

Material ini kemudian naik hingga atmosfer dan akan menyebar sejauh ratusan kilometer. Ia juga meyakini bahwa dampak terbesar dari uji coba nuklir bagi manusia adalah psikologis.

"Ketika Anda 'melempar' radiasi ke mana saja, maka orang-orang segera mengubah kebiasaan hidup mereka," paparnya. Mulai dari tidak memakan makanan dari laut seperti ikan atau bertamasya ke pantai sembari berenang.

"Hal-hal ini mungkin tidak didukung oleh sains, tapi jelas menimbulkan kepanikan. Apalagi kejadiannya berada di wilayah penduduk padat," tutur dia.

Intinya, Bühler bersama sejumlah ilmuwan, menekankan betapa sulitnya memprediksi konsekuensi jangka panjang dari hasil pengujian detonasi nuklir.

Meski hingga kini belum terungkap di mana lokasi sesungguhnya uji coba tersebut, pernyataan Ri memberi kesan bahwa Pyongyang tengah menyiapkan ledakan yang melampaui uji coba yang pernah dilakukan oleh AS. (ase)