Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 10 Oktober 2017 | 18:35 WIB
  • Pengakuan Dosen Pembimbing Dwi Hartanto 'The Next Habibie'

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Pengakuan Dosen Pembimbing Dwi Hartanto 'The Next Habibie'
Photo :
  • www.tudelft.nl
Dwi Hartanto, mahasiswa doktoral TU Delft, Belanda.

VIVA.co.id – Ilmuwan Indonesia, Dwi Hartanto (35), yang digadang-gadang sebagai “The Next Habibie” dan dijuluki "Si Jenius" ini memang telah mencoreng wajah Indonesia di mata dunia internasional, lantaran kebohongannya terbongkar.

Hal ini juga berimbas kepada almamaternya terdahulu, IST Akprind Yogyakarta, tempat Dwi menempuh studi S1 Jurusan Teknologi Informasi.

Lantas, bagaimana tanggapan Yuliana Rahmawati, dosen pembimbing skripsi Dwi Hartanto? Perempuan berhijab ini tak membantah bahwa sosok Dwi Hartanto yang dibimbingnya pada 2004 itu adalah mahasiswa yang rajin dan cerdas.

"Dwi itu sosok mahasiswa yang cukup menonjol dalam prestasi akademik," kata Yuliana, Selasa 10 Oktober 2017.

Yuli, sapaan akrabnya, mengaku masih ingat judul skripsi yang dibuat Dwi, yaitu 'Membangun Robot Cerdas Pemadam Api Berbasis Alogaritma kecerdasan AAN (Artificial Neural Network)'.

Ia mengaku sidang skripsi Dwi berjalan sangat lancar dan hasilnya cukup memuaskan. "Dia lulus tanggal 15 November 2005 dan di wisuda 26 November 2005 dengan IPK 3,88 cum laude," ujarnya.

Tak ada tanda-tanda melakukan tindakan kecurangan atau tidak jujur saat menempuh kuliah di IST Akprind.

Yuliana Rahmawati, dosen pembimbing skripsi Dwi Hartanto di IST Akprind.

Yuliana Rahmawati (VIVA.co.id/Dwi Royanto).

Namun, Yuli menyayangkan ketika mengetahui kebohongan Dwi Hartanto terbongkar ketika 12 tahun lebih meninggalkan kampus.

"Ini seakan-akan menenggelamkan prestasi akademik mahasiswa Akprind. Hanya karena kebohongan yang dilakukan Dwi Hartanto," tutur Yuli.

Ia berharap Dwi datang ke Akprind dan secara terbuka meminta maaf atas tindakannya kepada civitas akademika IST Akprind yang nama lembaga turut tercoreng.

"Harapan saya hanya itu saja. Datang ke Akprind dan minta maaf," ucapnya. (ase)