Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 11 Oktober 2017 | 13:32 WIB
  • NASA Mulai Kehabisan 'Bahan Bakar' untuk ke Luar Angkasa

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
NASA Mulai Kehabisan 'Bahan Bakar' untuk ke Luar Angkasa
Photo :
  • http://www.gomuda.com
Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)

VIVA.co.id – Siapa bilang sistem tata surya kita sangat cerah dan panas? Ternyata di luar angkasa lebih dingin, tak terlalu bercahaya dan jauh dari panas matahari. Padahal pesawat luar angkasa membutuhkan panas untuk bisa menetap lama di orbit.

Beruntung, bumi punya plutonium-238, sebuah radioisotop (salah satu bentuk elemen dari radioaktif) yang panasnya bisa diubah menjadi listrik. Plutonium-238 bisa membuat misi NASA terus berlangsung selama berpuluh-puluh tahun karena ditempatkan di perangkat bernama RPS atau sumber daya radioisotop.

Namun, dilansir melalui Science Alert, plutonium-238 sudah terlanjur dihambur-hamburkan sepanjang Perang bertahun-tahun lalu. Hal ini membuat plutonium-238 diperkirakan akan habis dalam kurun delapan tahun ke depan.

Ini artinya, tanpa plutonium, misi luar angkasa tinggal menjadi kenangan dan hanya sebuah angan-angan. Radioisotop diyakini memiliki sumber daya yang kuat, seiring dengan waktu, senyawa itu bisa berubah menjadi elemen baru yang mampu mengeluarkan energi dalam jumlah yang besar.

Panas yang dikeluarkan radioisotop bisa menghangatkan sirkuit robot yang rusak. Bisa juga berubah menjadi sumber energi yang padat, ringan, dan bertahan sebagai sumber listrik yang aktif sampai berpuluh-puluh tahun.

Menurut studi National Academies of Science, saat ini ada 2.900 jenis radioisotop yang dikenal di bumi. Namun hanya 22 di antaranya yang bisa digunakan untuk misi luar angkasa. Sayangnya, 21 jenis radioisotop terlalu berisiko untuk digunakan, bahkan harganya mahal, memiliki panas yang tak mencukupi dan terlalu banyak mengeluarkan radiasi berbahaya. Satu-satunya yang cocok dengan misi NASA adalah plutonium-238

"Pu-238 tidak seperti pu-239, yang tidak bisa dibuat sebagai bahan peledak nuklir. Ini seperti sebuah isotop ajaib yang sesuai untuk kebutuhan NASA," ujar kepala teknologi NASA, Jim Adams.

Pemerintah Amerika berhenti membuat Pu-238 pada 1988. Rusia pun pernah menjual sebagian elemen itu ke NASA pada 1990 dan 2000 namun berhenti pada 2009 karena mereka pun mulai kehabisan stok.

Saat ini NASA mengaku masih memiliki 35 kg Pu-238. Namun karena tersimpan lama dan mengalami kerusakan, hanya setengah dari jumlah itu yang masih bisa digunakan dan cukup digunakan NASA.

NASA pun dikabarkan sedang berupaya membuat kembali Pu-238 dengan biaya US$20 juta per tahun, untuk memproduksi 300-450 gram Pu-238 per tahun di 2019.