Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 19 Oktober 2017 | 12:37 WIB
  • Wanita Jenis Ini kalau Donor Darah Justru Bikin Pria Tewas

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Mitra Angelia
Wanita Jenis Ini kalau Donor Darah Justru Bikin Pria Tewas
Photo :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin
Ilustrasi donor darah.

VIVA – Ketika mendonorkan darah, mungkin bagi para wanita tidak pernah berpikir soal status, apakah lajang atau sudah menikah dan melahirkan.

Akan tetapi, informasi riwayat hidup penyakit pendonor seharusnya diungkapkan sebelum mendonorkan darahnya untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

Lantas, bagaimana efek jika seorang pria menerima donor darah dari wanita yang sudah melahirkan?

Mengutip situs Science Alert, Kamis, 19 Oktober 2017, para ilmuwan dari Leiden University Medical Center, Belanda, mengelompokkan donor darah dan penerima transfusi darah berdasarkan status.

Status di sini adalah pria dan wanita, lajang atau sudah menikah dan melahirkan. Secara total ada 31.118 pasien penerima transfusi darah.

Rinciannya adalah 88 persen pria, 6 persen wanita lajang dan 6 persen wanita pernah hamil.

Alhasil, dari riset yang didanai Kementerian Kesehatan Belanda dan dilakukan sejak 2005 sampai 2015 ini, menunjukkan bahwa angka kematian pria penerima transfusi darah dari wanita pernah hamil lebih tinggi dari pria menerima donor dari pria, atau wanita lajang, dan begitu seterusnya.

"Angka kematian pria yang menerima donor darah dari wanita pernah hamil adalah 101 per 1.000 orang dalam setahun. Lebih tinggi dibandingkan dengan 80 kematian pasien yang menerima donor, serta dari pria 78 kematian pasien yang menerima donor dari wanita lajang," kata Rutger Middelburg dari Leiden University Medical Center.

Akan tetapi, Rutger dan tim belum bisa menyimpulkan penyebabnya, karena perlu penelitian lebih lanjut lagi.

Namun, ada teori bahwa ketika hamil, wanita menghasilkan antibodi tertentu yang dapat bereaksi pada tubuh pria.

"Ketika hamil, seorang wanita akan terpapar dengan darah anak dan karena itu bisa mengembangkan antibodi khusus sepanjang hidupnya," ungkap dia.

Sehingga, lanjut dia, antibodi ini salah satu yang mungkin bisa menjelaskan temuan. Tapi bagaimana mekanisme spesifiknya belum ditemukan.