Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 1 November 2017 | 17:06 WIB
  • Gawat! Kurikulum Pendidikan Indonesia Pun Bisa Punah

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia,
    • Lazuardhi Utama
Gawat! Kurikulum Pendidikan Indonesia Pun Bisa Punah
Photo :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi
Menjemur Buku dan Perlengkapan Sekolah Pasca Banjir

VIVA – Indonesia diprediksi meraih bonus demografi pada 2020-2030 mendatang, di mana jumlah angkatan kerja berusia 15-64 tahun mencapai 70 persen. Sementara, sisanya yang 30 persen adalah penduduk tidak produktif, yaitu antara usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun.

Tantangan yang akan dihadapi para angkatan kerja produktif ini, salah satunya, pendidikan.

CEO Bukalapak, Achmad Zaky mengingatkan, apabila kurikulum pendidikan di Indonesia tidak berubah mengikuti perkembangan zaman, bukan tidak mungkin, mereka akan 'punah'.

"Sistem pendidikan harus mengikuti perubahan yang cepat ini. Kalau tidak bisa atau tidak mau, akan ditinggal. Itu yang saya maksud. Jangan hanya mengandalkan hafalan, IPK tinggi. Tonjolkan cara berpikir yang kreatif seperti menyelesaikan sebuah kasus (problem solving)," katanya kepada VIVA.co.id, Rabu, 1 November 2017.

Menurutnya, tak lama lagi perubahan akan terjadi lagi di tahun depan. Perusahaan yang tadinya bisa bertahan selama ratusan tahun, kalau tidak berubah, maka akan puluhan tahun, atau bahkan, tahunan saja bertahan.

Karena, selain persaingan makin ketat, akan muncul bidang atau sektor pekerjaan baru. "Dunia pendidikan harus aware akan hal ini. Mereka harus mau mengakomodir skill-skill baru. Jangan pakai lagi cara-cara dulu," ungkap Zaky, menegaskan.

Sementara itu, mengenai pola pikir orangtua yang menginginkan anak-anaknya bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau di perusahaan BUMN, Zaky melihat jangan 'ditelan mentah-mentah'.

"Harus dilihat dari sisi lain. Ada gaji bulanan atau fixed income. Tapi punya usaha lain harus jalan. Ini tidak, malah ingin jadi PNS atau BUMN. Itu salah menurut saya," jelas Zaky.