Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 4 November 2017 | 20:14 WIB
  • Menangi Kompetisi dengan Menciptakan Inovasi

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Menangi Kompetisi dengan Menciptakan Inovasi
Photo :
  • Dok. United in Diversity
Menaker Hanif Dhakiri (kemeja putih), Pendiri Yayasan UID Cherie Salim (tiga kanan), serta mantan Menparekraf Mari Elka Pangestu.

VIVA – Inovasi adalah kunci dalam memenangi persaingan. Oleh karena itu, dengan inovasi perlu didorong daya saing di semua aspek yang tujuannya memenangi kompetisi.

Menurut Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, tak hanya kompetisi, namun perlu kolaborasi agar kompetisi tidak mematikan satu sama lain.

"Kami tidak bisa bekerja business as usual. Harus bekerja dengan inovasi. Ini memang tantangan. Mau tidak mau, suka tidak suka. Persaingan terjadi di semua hal," kata Hanif, dalam keterangannya, Sabtu, 4 November 2017.

Salah satu program untuk mendongkrak kemampuan, terutama sektor tenaga kerja, adalah Colective Creative Learning and Action for Sustainable Solution (Co-CLASS).

Ia mengapresiasi program Co-CLASS ini lantaran meningkatkan kapasitas kepemimpinan kolektif tiga sektor yaitu bisnis, pemerintah, dan masyarakat madani.

"Dengan begitu mampu mengatasi berbagai tantangan ketenagakerjaan ke depan. Program ini telah berhasil melakukan reformasi mental yang sangat penting untuk menghasilkan aksi nyata dalam mewujudkan sistem ketenagakerjaan yang berdaulat, mandiri, berlandaskan gotong royong,” ungkapnya.

Program ini terselenggara atas kerja sama Kementerian Ketenagakerjaan, Yayasan Upaya Indonesia Damai (United in Diversity/UID), serta Tsinghua University dan Universitas Paramadina.

Sementara itu, pendiri Yayasan UID, Cherie Salim optimistis bahwa dengan adanya rasa saling percaya lintas sektor, pemerintah-bisnis-masyarakat madani, Indonesia akan mampu melewati tantangan dengan mengubahnya menjadi peluang.

Cherie juga mengungkapkan, Co-CLASS sangat fleksibel sehingga bisa diterapkan pada sektor atau fokus isu apa pun.

Karena, menurut dia, substansi pembelajaran dalam program ini adalah mengajak peserta untuk berpikir terbuka, hadir utuh dan sadar penuh.

"Program ini intinya membentuk pola pikir kalau pemimpin harus 'turun ke bawah' (blusukan). Ini bisa dikembangkan ke sektor lain sehingga proses revolusi mental bisa tercapai,” paparnya.