Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 14:13 WIB
  • 'GIF Tak Bikin Tegang, Porno di Twitter Lebih Kenceng'

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
'GIF Tak Bikin Tegang, Porno di Twitter Lebih Kenceng'
Photo :
  • www.pixabay.com/Geralt
Ilustrasi menonton video porno.

VIVA – Pemblokiran konten GIF bernada pornografi di Whatsapp dianggap sebagai hal yang bodoh. Pasalnya, format GIF hanyalah gambar bergerak yang hanya memiliki durasi satu hingga dua detik, berbeda dengan video satu menit yang beredar di Twitter, Facebook maupun Instagram.

Hal ini diungkap oleh seorang Youtuber yang terkenal dengan nama Cakdan. Menurut dia, jika hanya GIF pornografi Whatsapp yang diblokir, hal itu akan sia-sia. Masih banyak media lain yang menyediakan akses konten dan video porno dengan durasi yang lama dan terbuka, ketimbang hanya formt GIFWhatsapp.

"Kalau cuma GIF mah, 'ngaceng’ (maaf tegang-red) juga kagak. Di Twitter atau Google lebih parah. Kenapa Whatsapp yang cuma GIF doang dipermasalahin, tapi Twitter engga," katanya, kepada VIVA, Selasa, 7 November 2017.

Dia pun menunjukkan sebuah link twitter milik produsen pornografi ternama, Brazzers. Di akun Twitter itu bertebaran foto dan video berdurasi 'tanggung' yang bisa diunduh secara mudah, hanya sekali klik. Meskipun sebelumnya ada peringatan dari Twitter yang menyatakan jika video ini berisi materi yang sensitif. 

Berkaca dari peristiwa ‘Tata Chubby’, PSK online yang akhirnya meninggal dunia karena dibunuh pelanggannya. Tata membuka layanan online untuk pria hidung belang di Twitter. Jika mau menggali lebih dalam, akan ditemukan banyak akun layanan ‘Tata Chubby’ lainnya di Twitter saat ini.

Pengguna lainnya menambahkan link lain yang didapat dari Instagram. Beberapa link tersebut menghadirkan foto yang tidak kalah seronok. 

"Twitter sama Instagram sekarang lebih 'sangar' kalau soal perbokepan," kata pengguna lain yang tidak ingin disebutkan namanya.

Setidaknya, Cakdan melanjutkan, hampir semua media sosial dengan akses terbuka bisa menjadi media penyaluran konten porno. Di sinilah pemerintah ditantang untuk bisa menghalau lebih jauh dan lebih dalam lagi mengingat media sosial telah menjadi bagian yang tidak lagi bisa dipisahkan di era Kids Zaman Now.

Setidaknya, kata dia, warga bisa diedukasi, diberikan panduan untuk bisa melakukan pemblokiran sendiri (self censorship) jika tiba-tiba tak disengaja menemukan konten porno, yang tidak dipungkiri lagi memang banyak bertebaran dan bisa diakses dengan mudahnya.