Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 5 Desember 2017 | 19:55 WIB
  • Pemerintah Dukung Blockchain, Asal Bukan Bitcoin

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Siti Sarifah Alia
Pemerintah Dukung Blockchain, Asal Bukan Bitcoin
Photo :
  • www.pixabay.com/MichaelWuensch
Bitcoin dan mata uang lainnya dibangun di atas teknologi bernama Blockchain.

VIVA – Banyak orang yang masih skeptis dengan penggunaan teknologi Blockchain, karena identik dengan Bitcoin. Padahal banyak hal berguna yang bisa digunakan dengan teknologi Blockchain. 

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika mengaku mendukung penerapan teknologi Blockchain. Namun jika bicara mengenai Cryptocurrency atau Bitcoin, maka mereka dengan tegas mengatakan tidak.

"Blockchain is something that unavoidable. Saya mendukung Blockchain karena ia memberi transparansi dalam setiap transaksi. Misalnya, dalam layanan transfer uang, dia bisa tahu ini uang asal usulnya darimana. Siap memberikan ke siapa. Datanya semua ada. Secara langsung ini bisa mempermudah kinerja KPK," ujar Menkominfo Rudiantara di kantor Plug n Play Jakarta, Selasa 5 Desember 2017.

Sedangkan terkait Bitcoin, Rudiantara setuju jika aplikasi seperti itu dilarang. Hal ini dikarenakan Bitcoin tak memiliki asal usul kepemilikan yang jelas dan darimana teknologi itu datang.

"Bitcoin itu, dalam tanda kutip, menciptakan Black Economy. Kita saja tidak tahu darimana itu asal usul Bitcoin. Dia lebih dijadikan komoditas ketimbang digital currency," katanya.

Masuk Pasar Global

Ditambahkan Steven Suhadi, selaku Co-Founder BlockTech Company, sejatinya banyak yang bisa dilakukan dengan teknologi Blockchain. Teknologi itu memang identik dengan Bitcoin namun itu hanya salah satu aplikasi dari pemanfaatan Blockchain.

"Startup bisa menggunakan Blockchain untuk masuk ke pasar global. This can disrupt current disruption. Blockchain bukan Bitcoin. Saya yakin pemerintah tahu beda antara keduanya. Tak hanya di perusahaan finansial, Blockchain juga bisa menangkal Fake News, digunakan perusahaan media untuk menkonfirmasi trafik, baik artikel maupun iklan," kata Steve.

Untuk urusan menangkal hoaks, cara kerjanya, kata Steve, sebuah berita akan mampu dikenali apakah itu berita bohong atau benar, dengan adanya konsensus data komputer.

Menurut Steve, itulah yang terpenting dalam sebuah teknologi Blockchain, yakni perpaduan antara konsensus data dan logika.

Sedangkan dalam dunia usaha rintisan, Blockchain bisa membantu perusahaan untuk masuk ke pasar negara mana saja.

Selain investasi pengembangannya yang murah sampai gratis, Blockchain mampu mengenali pasar dan memberikan insight untuk para startup dengan data yang terdesentralisasi. (ren)