Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 8 Agustus 2017 | 09:30 WIB
  • Dirancang, Drone yang Bisa Menempel di Dinding

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Dirancang, Drone yang Bisa Menempel di Dinding
Photo :
  • www.pixabay.com/MabelAmber
Ilustrasi drone.

VIVA.co.id – Para teknisi dari Createk Design Lab di Université de Sherbrooke, Quebec, Kanada, merancang Multimodal Autonomous Drone atau S-MAD. Pesawat tanpa awak ini mampu mendarat, menempel atau bertengger, hingga lepas landas di dinding vertikal seperti tembok.

Akan tetapi, drone ini tidak diciptakan untuk menjadi mata-mata. Sebagai gantinya, tim Sherbrooke menyatakan S-MAD suatu hari nanti dapat digunakan untuk melaksanakan tugas yang kurang menyeramkan, seperti pemantauan udara setelah gempa bumi atau membantu inspeksi bangunan.

Diberitakan oleh Motherboard, Selasa, 8 Agustus 2017, S-MAD dapat mendarat secara vertikal karena dilengkapi dengan sensor rentang deteksi dinding (wall detection range sensor). Sensor ini membantu untuk mengetahui waktu gerak ke atas guna mengantisipasi permukaan vertikal.

S-MAD juga memiliki mikroskop penggenggam yang memungkinkannya melekat pada dinding, begitu mesin ini membuat kontak. S-MAD dapat mendarat di permukaan yang kasar dan halus, baik itu di dalam maupun di luar ruangan. Pembuatan S-MAD meniru teknik pendaratan yang dilakukan oleh tupai terbang.

"S-MAD terinspirasi oleh burung dan tupai terbang. Drone ini punya kemampuan untuk bertengger di permukaan vertikal yang kasar dengan menggunakan serangkaian tulang belakang mikronya. Hal ini dapat dilakukan dalam berbagai kondisi cuaca berbeda," ungkap salah satu pencetusnya, Profesor Alexis Desbiens.

S-MAD diklaim sebagai kendaraan pertama, dari jenis drone, yang mampu memanfaatkan dorongan tenaganya untuk melakukan manuver pitch-up yang cepat. Kondisi itu memungkinkannya untuk memperlambat lintasan dengan cepat, sebelum terjadi penurunan mesin.

"Manuver dimulai saat pesawat sedang terbang dalam kecepatan cruise. Setelah dinding terdeteksi oleh sensor laser, pesawat akan memulai manuver pitch-up untuk melambat dengan cepat. Selama manuver, dorongan energi ditingkatkan untuk mempertahankan kecepatan vertikal dan kontrol permukaan mulai diperintahkan untuk mengambil posisi bertengger," tutur Desbiens.

Dalam konfigurasi itu, pesawat bisa menempuh jarak signifikan sebelum menyentuh dinding yang mampu mengurangi penginderaan. Pada akhirnya, kaki mikrospine (tulang punggung) akan menyentuh dinding dan suspensi akan menyerap energi kinetik yang tersisa.

Dampaknya terdeteksi dengan adanya onboard accelerometer yang langsung mematikan baling-baling. Pesawat kemudian berhenti dan menempel di dinding dan akan tetap bisa berada dalam konfigurasi itu, dengan menggunakan sedikit energi atau bahkan pengisian ulang, untuk durasi yang diperpanjang.

Bila diinginkan, S-MAD bisa kembali lepas landas dengan menggunakan dorongan dan terbang menjauh dari dinding. (art)