Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 06:53 WIB
  • Kirim Pesan Tanpa Nama, Sarahah Bisa Picu Cyber Bullying

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Afra Augesti
Kirim Pesan Tanpa Nama, Sarahah Bisa Picu Cyber Bullying
Photo :
  • Twitter @ZainAlabdin878
Pencipta Aplikasi Sarahah, Zain al-Abidin Tawfiq.

VIVA.co.id – Zain al-Abidin Tawfiq, mungkin tak menyangka aplikasinya digemari remaja di dunia saat ini. Pria asal Arab Saudi ini menciptakan aplikasi chatting bernama Sarahah, yang artinya kejujuran, atau keterbukaan.

Tak hanya kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Sarahah juga dipakai oleh kaum milenial, atau remaja di Amerika Serikat dan Inggris.

Tawfiq mengakui, niat awal menciptakan Sarahah ditujukan bagi karyawan perusahaan yang ingin menyampaikan 'uneg-uneg' secara gamblang kepada atasan atau perusahaan mereka.

Lantas, apa yang menyebabkan aplikasi newbie ini mendadak tenar?

Menurut situs The Sun, Rabu 9 Agustus 2017, Sarahah memungkinkan pengguna untuk mengirim pesan tanpa nama/identitas (anonymous messaging) satu sama lain, tanpa harus mencari tahu siapa yang mengirim pesan untuk dibalas.

Kirim pesan tanpa nama ini sangat penting, karena pengguna dapat mengirim pesan blak-blakan ke teman, kolega, atau bahkan atasan, tentang bagaimana perasaan mereka.

"Saya menyarankan bahwa (aplikasi) ini bisa digunakan untuk 'meningkatkan persahabatan Anda dengan menemukan kekuatan untuk memulai perbaikan'," kata Tawfiq.

Ia juga menegaskan kalau Sarahah dapat diunduh secara gratis yang tersedia di Google Play dan App.Store.

Kendati demikian, fakta bahwa pengguna tidak takut akan konsekuensi apa pun atas pesan yang mereka kirim justru membuat Sarahah dibawa ke titik kontroversi.

Aplikasi messaging Sarahah.

Aplikasi Sarahah.

Aplikasi ini dianggap menimbulkan kekhawatiran, khususnya orangtua, terhadap munculnya potensi penindasan di dunia maya (cyber bullying) dan penyalahgunaan lainnya.

Seorang warganet bernama Rosanna Pastor mengaku, sudah menemukan beberapa laporan adanya bullying yang meluas akibat penyalahgunaan layanan ini.

Beberapa pengguna, bahkan menyampaikan keluhannya melalui tinjauan di App.Store, tentang contoh pesan rasis dan pelecehan lainnya.

Bahkan, Sarahah memiliki rating bintang 3,3 di Google Play dan hanya 2,1 pada App.Store. Artinya, aplikasi ini memiliki masalah keluhan akibat intimidasi.

"Tujuan dibuatnya Sarahah pada dasarnya baik. Tapi kemudian, ketika digunakan oleh orang yang salah, maka hal positif ini berubah menjadi negatif. Contohnya, ya, penindasan dunia maya," kata Pastor, dilansir CBS News.

Para ahli menegaskan, orangtua perlu ikut campur dalam urusan ini, dan harus menyampaikan kepada anak-anaknya tentang risiko penggunaan Sarahah, serta metode komunikasi yang lebih baru.

Mereka juga menyarankan, agar orangtua membatasi waktu mereka untuk online. Remaja dengan mudah masuk ke aplikasi media sosial ini, sehingga mendorong terjadinya insiden bullying online dalam beberapa tahun terakhir.

"Jujur saja, saya hanya mendapat pesan-pesan yang baik. Tampaknya, lebih banyak anak perempuan yang diintimidasi karena mengomentari hal-hal seksual. Saya melihat beberapa di antara mereka dipanggil 'hoes'," kata Sam, siswa SMA North Carolina. (asp)