Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 2 September 2017 | 21:38 WIB
  • Industri Game Indonesia Belum Dapat Izin Akses ke Microsoft

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Afra Augesti
Industri Game Indonesia Belum Dapat Izin Akses ke Microsoft
Photo :
  • VIVA.co.id/Afra Augesty
Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf

VIVA.co.id – Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf mengatakan, pasar game di Indonesia memiliki pontensi besar untuk berkembang. Akan tetapi, pencipta game Indonesia dinilai masih belum bisa menguasai pasar dalam negeri.

Ia menyampaikan, alasan utama yang menjadi penghambat bukan karena kemampuan, melainkan adanya masalah di ekosistem.

"Misalnya, kita belum bisa menembus Microsoft Xbox, tapi ini sedang kita bicarakan dengan developer kit-nya agar kita dapat izin dari mereka, sehingga para pencipta game Indonesia bisa masuk dan game Indonesia bisa dipakai di Microsoft Xbox, di Nitendo, dan sebagainya. Kalau secara kemampuan, sudah. Ini hanya masalah negosiasi saja," katanya usai memberi sambutan di K-Content Expo 2017 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 2 September 2017.

Pada bulan September tahun ini, ia dan pihak Microsoft Xbox akan mengadakan pertemuan untuk membahas kelanjutan izin tersebut. Tindakan ini diambil Bekraf untuk menyeimbangkan publisher game yang didominasi dari luar negeri, salah satunya dari Korea.

"Kita sudah utarakan keinginan kita melalui Game Prime 2017, Microsoft sudah menyambut baik. Tinggal ketemu mereka dan akan segera mereka buka aksesnya, karena ini pemerintah Indonesia yang minta. Nanti tinggal bagaimana kita memasarkannya, soalnya publisher game masih berasal dari luar negeri," tuturnya.

Dalam acara K-Content Expo 2017, Triawan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud nyata kerja sama ekonomi kreatif antara Indonesia dan Korea dalam mendorong pertumbuhan industri game, animasi, aplikasi, dan broadcasting antara kedua negara.

Dia menambahkan, kedua negara telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai kerja sama ekonomi kreatif pada bulan Mei 2016. Ini merupakan bukti serius bahwa industri kreatif menjadi fokus pemerintah kedua negara untuk dikembangkan dan dimanfaatkan demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.