Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 9 September 2017 | 08:32 WIB
  • Startup Ini Bisa Bantu Cari Kos dan Jasa Survei

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Startup Ini Bisa Bantu Cari Kos dan Jasa Survei
Photo :
  • JakPat.net
Aplikasi Jakpat (Jajak Pendapat), aplikasi survei yang menghubungkan responden

VIVA.co.id – Meraih pundi-pundi rupiah melalui digital startup tidaklah harus bermodal lulusan teknologi informasi (TI) atau bahkan melek dengan teknologi. Orang yang tidak punya latar belakang teknologi informasi pun bisa terjun dalam bisnis digital startup.

Seperti dalam acara Sharing Session With MMUGM Alumni dengan mengangkat tema #1 Digital Startup Business Insight yang digelar di Wisma MM Universitas Gadjah Mada, Jumat malam 8 September 2017, menghadirkan delapan narasumber yang sukses dalam bisnis digital startup.

Ternyata, mereka bukan orang yang berlatar belakang lulusan teknologi informasi, bahkan bisa dikatakan gagap teknologi alias gaptek.

Salah satu narasumber yang bukan lulusan TI, Maria Regina Anggit Tut Pilih, sukses menjalankan bisnis layanan survei dengan aplikasi JAKPAT (jajak pendapat) dan aplikasi MAMIKOS. Bisnis juga menjawab adanya perkembangan gawai yang cukup pesat dan semakin canggih dan harganya semakin murah sehingga terjangkau masyarakat.

Alumni Hubungan Internasional UGM ini mulai mengembangkan aplikasi JAKPAT ketika melanjutkan studi di MM UGM. Ia bertemu dengan seseorang yang mengerti dengan IT dan melakukan sharing untuk bisnis melalui startup yang akhirnya diperkenalkanlah aplikasi JAKPAT yang dapat diunduh melalui aplikasi yang ada di gawai.

"Pada tahun 2014 kami luncurkan aplikasi tersebut, namun sambutan pasar masih sangat minim karena merupakan sesuatu yang baru," kata Anggit panggilan akrab Maria Regina Anggit Tut Pinilih.

Dengan usaha yang keras dan mampu menyakinkan klien bahwa survei atau jajak pendapat dengan jumlah responden 1.000 dengan berbagai latar belakang dari pendidikan, usia dan alamat tinggal di kota atau daerah yang berbeda, akhirnya mulai banyak perusahaan yang meresponsnya.

"Yang jelas apa yang kami tawarkan jauh lebih rendah harganya dibandingkan dengan melakukan survei secara konvensional dan bank data yang kami miliki sangat banyak," ujar dia.

Wanita kelahiran 22 Agustus 1986 ini mengakui untuk mendapatkan responden yang cukup banyak dan tersebar di berbagai kota di Indonesia, pihaknya menawarkan berbagai reward yang menarik bagi responden yang mengunduh aplikasi JakPat dan bersedia menjawab setiap pertanyaan yang dikirim melalui aplikasi JakPat.

"Responden bisa mendapatkan uang, voucer hingga reward menarik yang kami tawarkan," katanya.

Dengan jumlah responden yang mengunduh aplikasi JakPat mencapai ribuan dan mampu membuktikan survei dapat dilakukan dengan sangat cepat dan harganya terjangkau, kini usaha digital startup yang digeluti Anggit sudah mendapatkan klien perusahaan tingkat nasional seperti Nutrifood, Garuda Food, Accenture, McKinsey&Company, JKT 48, Dentsu, Iris Worldwide, Mirum Agency, dan Indomaret.

"Saat ini kita juga ingin mengembangkan survei untuk membantu mahasiswa untuk mempercepat skripsi atau tesis khususnya survei, sehingga para mahasiswa ini cepat lulus kuliah," ungkapnya.

Diakuinya, banyak mahasiswa S1, S2 dan S3 yang masa studinya cukup lama karena terbentur survei untuk menyelesaikan tugas akhirnya dan butuh biaya banyak.

"Aplikasi JakPat ini bisa menjadi solusi agar bisa cepat selesai mengerjakan tugas akhir dengan biaya yang terjangkau," ucapnya.

Tak hanya mengembangkan aplikasi JakPat, Anggit juga tengah mengembangkan aplikasi MamiKos yang kini banyak diunduh oleh masyarakat yang ingin mencari kos di berbagai kota di Indonesia.

"Sistem MamiKos tak beda jauh dengan JakPat. Kalau MamiKos kita mengumpulkan para pemilik kos sedangkan JakPat mengumpulkan responden," katanya.

MamiKos pun selalu diperbaharui dengan informasi terbaru tentang ketersedian kos minimal 30 hingga 40 persen informasi tentang kamar kos yang masih kosong akan diperbaharui setiap harinya.

"Ada karyawan kami yang selalu berkomunikasi dengan pemilik kos untuk informasi kos yang terbaru. Termasuk juga menambah jumlah pemilik kos yang akan ditampilkan di aplikasi MamiKos," terangnya. (ase)