Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 12 September 2017 | 12:58 WIB
  • Mau Punya Istri Banyak? Klik Aplikasi Ini pada 5 Oktober

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Mau Punya Istri Banyak? Klik Aplikasi Ini pada 5 Oktober
Photo :
  • www.ayopoligami.com
Situs ayopoligami.com

VIVA.co.id – Aplikasi AyoPoligami.com sempat membuat heboh dunia maya pada Agustus 2017, lantaran memfasilitasi pria Muslim Indonesia untuk memiliki istri lebih dari satu.

Namun, saat ini platform tersebut sedang dalam perbaikan dan akan diluncurkan kembali pada 5 Oktober 2017.

Mengutip situs Telegraph, Selasa, 12 September 2017, tagline dari aplikasi ini adalah 'ayo melakukan poligami', di mana itu menggambarkan bahwa seorang pria mencari pasangan hidupnya yang setuju untuk menjadi bagian 'dari keluarga besar'.

Perbaikan aplikasi AyoPoligami.com ini antara lain programming otomatisasi pembuktian identitas diri saat melakukan registrasi untuk mencegah akun palsu. Nantinya, aplikasi baru tersebut menjanjikan monitoring ketat.

Sebelumnya, AyoPoligami.com mengusung slogan 3C+S, yakni Cari, Chat, Cocok, dan Silaturahmi. Aplikasi sebenarnya baru saja diperbarui pada 6 Mei 2017 dan sudah diunduh sebanyak 1.000 kali dengan kapasitas 20,46 Mb.

Aplikasi ini mengharuskan pengguna untuk memberikan identifikasi resmi dan memberikan surat izin menikah lagi dari istri pertama.

Meski sedang diperbaiki namun halaman web aplikasi tersebut menampilkan gambar pria berkacamata sedang tersenyum duduk di depan laptop, diapit oleh tiga wanita dengan dua anak.

Di atas gambar 'keluarga besar' terdapat tulisan 'Hadir Kembali 5 Oktober 2017' serta seruan untuk memberikan sumbangan membantu minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Lalu, di bawahnya ada tulisan 'Upgrading System'.

Akan tetapi, aplikasi ini diperkirakan tidak akan populer karena banyaknya hujatan dari netizen/warganet. Kehadiran AyoPoligami.com memicu perdebatan di sebuah negara, di mana hampir 90 persen dari 260 juta penduduknya adalah Muslim.

"Saya rasa aplikasi ini tidak akan populer," kata Bonar Tigor Naispospos, dari Setara Institute, lembaga think-tank di Jakarta yang fokus pada agama dan masyarakat. (ase)