Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 13 Oktober 2017 | 09:10 WIB
  • Alibaba Pilih Israel untuk Jadi Pusat Litbang

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Alibaba Pilih Israel untuk Jadi Pusat Litbang
Photo :
  • REUTERS/Bobby Yip
Pendiri Alibaba Jack Ma.

VIVA.co.id – Perusahaan bisnis jual beli online (e-commerce) raksasa China, Alibaba, akan membuka pusat penelitian dan pengembangan (R&D Center) di Israel.

Negeri Yahudi ini adalah satu dari delapan negara yang dibidik Alibaba dalam membangun pusat penelitian dan pengembangan. 

Keberadaan Alibaba di Israel sudah ada sejak 2014, di mana mereka telah membuka kantor investasi dan telah menggelontorkan uangnya ke dalam perusahaan rintisan (startup) di augmented reality (Infinity AR, Lumus), komunikasi (Visualead), mesin pencari (Twiggle) dan cybersecurity (ThetaRay).

Selain itu, Alibaba juga menginvestasikan dananya di perusahaan fintech Israel bernama Jerusalem Venture Partners.

Langkah ini sebagai bagian dari aksi korporasi Alibaba di luar negeri dengan menggelontorkan dana sebesar US$15 miliar (hampir Rp200 triliun) untuk membantu para pemimpin global mengembangkan industri e-commerce, logistik dan cloud.

Sebelumnya, Akademi Alibaba Damo juga akan meluncurkan pusat penelitian dan pengembangannya di Amerika Serikat, Rusia, dan
Singapura.

Perusahaan milik Jack Ma ini bakal mempekerjakan 100 periset untuk memproduksi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), komputasi kuantum (quantum computing) dan teknologi berbasis keuangan (fintech).

"Damo akan menjadi yang terdepan dalam mengembangkan teknologi generasi mendatang yang akan memacu pertumbuhan Alibaba bersama dengan mitra (negara) kami," kata Chief Technology Officer Alibaba, Jeff Zhang, seperti dikutip Haaretz, Jumat, 13 Oktober 2017.

Alibaba sendiri telah memiliki pusat penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan penetrasi bisnis cloud mereka sejak 2016 di Eropa, Australia, Jepang, India dan Indonesia.

Langkah ekspansif Alibaba dalam satu tahun terakhir ini membawanya ke persaingan langsung dengan peritel AS, Amazon, yang juga mengembangkan bisnis pembayaran global, cloud serta logistik.