Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 17 Oktober 2017 | 19:30 WIB
  • Menanti Dua Startup Unicorn Pelengkap Gojek dan Tokopedia

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Chandra G. Asmara
Menanti Dua Startup Unicorn Pelengkap Gojek dan Tokopedia
Photo :
  • www.pixabay.com/geralt
Ilustrasi startup.

VIVA – Pemerintah sedang gencar menggiring investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia, khususnya untuk perusahaan rintisan atau startup. Pemerintah ingin, startup yang masuk kategori ‘unicorn’ bisa bertambah pada 2019. Startup unicorn merupakan sebutan untuk perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi minimal US$1 miliar atau sekitar Rp13 triliun.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menyebutkan saat ini ada tiga perusahaan startup yang masuk kategori unicorn, yakni Gojek, Traveloka, dan Tokopedia. Rudiantara menargetkan, ada dua tambahan startup unicorn dua tahun lagi.

“Tahun 2015, waktu kami ke Silicon Valley target kami sampai 2019. Jadi setiap tahun satu. Sekarang sudah ada tiga, tinggal dua lagi. Di ASEAN saja belum ada unicorn,” kata Rudiantara, saat ditemui di Kompleks Kepresidenan, Jakarta, Selasa 17 Oktober 2017.

Meskipun enggan menyebutkan nama para calon startup yang bakal menjadi unicorn, namun Rudiantara menyebutkan, kedua startup tersebut bergerak di bidang marketplace. Menurutnya, pengembangan perusahaan rintisan perlu adanya peran dari penanam modal.

Setelah ke Silicon Valley dan Jepang beberapa waktu lalu dalam rangka menarik investasi terhadap startup, Menkominfo akan kembali terbang ke Shanghai, China dan kawasan Eropa. Hal ini untuk menarik investasi masuk ke perusahaan-perusahaan startup.

“Kami rencanakan ke Shanghai dan Eropa. Karena ini daerah-daerah yang lapar venture capital. Tapi mungkin yang keluarga venture capital,” katanya.

Terlepas dari hal itu, kepastian investasi akan tetap bergantung pada pemilik modal. Apa yang dilakukan pemerintah saat ini adalah, menciptakan iklim investasi yang kondusif, sehingga bisa menarik minat para penanam modal untuk berinvestasi di Indonesia.

“Makanya Kominfo fokusnya membuat iklim yang kondusif agar unicorn jadi. Kalau tidak kondusif, gimana mau investasi,” katanya.