Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 13:50 WIB
  • Jejak Yerusalem jadi Kota Startup

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Jejak Yerusalem jadi Kota Startup
Photo :
  • REUTERS/Oleg Popov
Kaum Ultra-Orthodox Yahudi memandang Kubah Shakrah di Kota Tua Yerusalem

VIVA – Kota Yerusalem dikenal sebagai kota suci bagi tiga agama dan kota bersejarah bagi Israel dan Palestina. 

Ada sisi lain dari perkembangan Yerusalem. Kota yang penuh dengan situs penting ini saat ini sedang berkembang sebagai rumah bagi startup. Bahkan belakangan pemerintah Israel berani menyebutkan Yerusalem merupakan kota startup baru, yang menjadi alternatif Silicon Valley di Amerika Serikat. 

Dalam dunia teknologi, Israel memang diakui kontribusinya. Beberapa inovasi dan teknologi dihasilkan dari karya perusahaan asal Israel. 

Bicara konteks startup, Israel memang telah menghasilkan banyak startup kelas dunia. Dikutip dari Luissenlabs, Kamis 7 Desember 2017, Israel malah lebih rajin dalam soal startup dibanding negara maju lainnya. Dengan menjadi negara startup, Israel telah menarik investasi pemodal ventura lebih dari dua kali lipat dibanding di AS, atau investasi yang dihasilkan dari ekosistem startup di Israel disebutkan 30 kali lebih banyak dibanding investasi gabungan dari semua anggota Uni Eropa. 

Sebelumnya, Israel mengandalkan Tel Aviv sebagai salah satu kota penting. Namun belakangan Israel mulai membangun Yerusalem sebagai kota startup baru.

Pembangunan Yerusalem sebagai kota teknologi dan rumah startup tak lepas dari upaya Jerusalem Development Authority (JDA). Lembaga ini memang punya visi pengembangan Yerusalem sebagai kota dengan infrastruktur maju didukung dengan teknologi tinggi. Dengan profil kota tersebut, JDA menginginkan investor bisa tertarik hidup, orang luar maupun asli Yerusalem bisa betah berkarya di kota ini. 

Dikutip dari Jpost, Chie Executive Officer JDA, Eyal Haimovsky menuturkan tujuan utama lembaganya yakni menciptakan modal yang dinamis, harmonis, pluralistik Yerusalem. Sehingga bisa menarik migrasi orang muda dan kreatif ke Yerusalem. 

Salah satu bagian inisiatif visi itu yakni program NIS 1,4 Miliar Jerusalem Gateway Project. Ini merupakan proyek pembangunan distrik bisnis baru dengan 24 bangunan tinggi di lahan seluas 1 juta meter persegi. Pusat distrik bisnis ini diharapkan bisa menciptakan 40 ribu pekerjaan dan membuat aktivitas 65 ribu orang tiap hari di distrik ini. 

"Kami secara aktif membuka pintu ke Yerusalem menjadi kawasan bisnis baru di negara ini," ujar Haimovsky. 

Dia menuturkan, Yerusalem akan akan menjadi kota yang terbuka bagi semua orang, khususnya orang muda. JDA juga berupaya menjadikan Yerusalem sebagai kota multikultural yang bisa kapan saja dikunjungi orang. 

"Kami sangat terlibat dengan kota ini dan infrastrukturnya dalam 10 tahun terakhir ini. Kami juga melibatkan dengan industri teknologi tinggi," jelas sang CEO. 

Haimovsky mengakui, JDA bekerja sama dengan Hebrew University of Jerusalem, perusahaan populer dan startup dunia untuk menyulap Yerusalem sebagai kota startup. Perusahaan yang digandeng di antaranya Cisco, Mobile Life, Intel sampai Facetune.

"Pertama kami membantu mereka (perusahaan teknologi) datang ke sini. Kemudian kami bekerja sama Hebrew University of Jerusalem serta pebisnis untuk menciptakan kawasan industri, sehingga menyokong kemajuan," jelasnya. 

Dengan upaya JDA tersebut, tak heran kini Yerusalem merupakan salah satu pusat teknologi dengan pertumbuhan tercepat. 

Time Magazine telah menempatkan Yerusalem dalam peringkat pertama di antara lima pusat teknologi paling berkembang di dunia. Sedangkan Compass menempatkan Yerusalem di antara 30 ekosistem startup paling berharga di dunia. Compass merupakan pemeringkat ekosistem startup di dunia.