Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 17 November 2017 | 06:02 WIB
  • Oumuamua, 'Tamu Jauh' Pertama di Tata Surya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Oumuamua, 'Tamu Jauh' Pertama di Tata Surya
Photo :
  • www.space.com/NASA/JPL-Caltech/IAU
Objek antarbintang, Oumuamua

VIVA – Teka-teki objek antarbintang misterius yang mengunjungi Bumi pada bulan lalu akhirnya terkuak. Persatuan Astronomi Internasional atau IAU sepakat menamai objek antarbintang yang menjadi ‘tamu’ di Tata Surya dengan Oumuamua, pada Selasa lalu.

Asosiasi astronomi itu juga bulat melabeli Oumuamua dengan nama lengkap Oumuamua: 1I/2017 UI. Huruf I dari nama itu merupakan kepanjangan dari ‘interstellar’ atau antarbintang.   

Dikutip dari Space.com, Kamis 16 November 2017, nama Oumuamua diambil dari bahasa Hawaii yang berarti ‘utusan pertama yang dari lokasi jauh’. 

"Oumuamua pertama kali terdeteksi pada 19 Oktober oleh astronom dengan menggunakan teleskop Pan-STARRS1 di Hawaii," jelas peneliti. 

Oumuamua melewati titik terdekat Matahari pada 9 September dan kemudian makin mendekat Bumi dengan jarak 24 juta kilometer pada 14 Oktober 2017. Jarak Oumuamua dengan Bumi itu sekitar 60 kali jarak Bumi ke Bulan. Objek antarbintang ini masuk ke Tata Surya dengan kecepatan 158.360 kilometer per jam

Saat awal dideteksi, Oumuamua pertama kali diklasifikasikan sebagai komet. Namun dalam penelitian seksama, Oumuamua tidak memiliki awan gas dan debu yang umum ada pada komet, maka astronom beralih mengidentifikasi Oumuamua sebagai asteroid.

Selanjutnya analisis lintasan Oumuamua menunjukkan objek ini datang ke Tata Surya dengan jalur hiperbolik. Bukti ini membuat astronom meyakini Oumuamua datang dari luar Tata Surya.

Diteliti lebih dalam, Oumuamua ternyata tidak memiliki pertemuan gravitasi dengan planet-planet lain di Tata Surya. Bukti tersebut membuat astronom yakin banget Oumuamua merupakan objek dari ruang antarbintang. 

Soal komposisi Oumuamua, pada bulan lalu Direktur Minor Planet Center, Matthew Holman meyakini objek tersebut cenderung berkomposisi es dibanding batu. Alasannya objek yang datang dari area terluar Tata Surya cenderung berkomposisi es.