Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 3 Desember 2017 | 12:01 WIB
  • Neil Papworth, Orang Pertama yang Mengirim SMS, Siapa Dia

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Neil Papworth, Orang Pertama yang Mengirim SMS, Siapa Dia
Photo :
  • phonenumbers4u.co.uk
SMS Inbox

VIVA – Hari ini merupakan ulang tahun layanan pesan pendek atau SMS. Pada 25 tahun lalu, SMS pertama lahir dari seorang insinyur Sema Group Inggris, Neil Papworth. Pengembang tersebut mengirim pesan kepada Direktur Vodafone, Richard Jarvis.

Jangan dibandingkan dengan layanan aplikasi perpesanan yang makin kaya corak pesan, SMS pertama kali lahir dari situasi yang sangat sederhana. 

Dikutip dari Sky News, Minggu 3 Desember 2017, seperempat abad lalu Papworth mengirim SMS ke Jarvis bukan dari ponsel melainkan dari perangkat komputer. Sebab pada 1992, handset hanya bisa menerima pesan, belum bisa mengirimkan pesan. 

Papworth kala itu mengirim SMS dengan pesan yang tertulis lengkap, tidak disingkat-singkat seperti anak zaman sekarang. 

Kala itu, Papworth mengirim pesan tertulis, 'Merry Christmas' bukan dengan ejaan 'Xmas' kepada Jarvis. Dia mengirimkan pesan tersebut terkait dengan perayaan Natal di kantornya. Papworth mengirim SMS melalui komputer sedangkan Jarvis menerima pesan pendek Papworth di handset Orbitel 901. 

Neil Papworth, pengirim pertama SMS

Neil Papworth

Papworth kala mengirim SMS pertama berusia 22 tahun. Dia mengaku memang teknologi SMS bukan temuannya. Pria tersebut mengaku beruntung bisa menjadi yang pertama mengirimkan SMS tersebut.  "Saya tidak tahu jika SMS itu akan menjadi hal besar setelahnya," ujar Papworth. 

Setahun setelah SMS pertama lahir, ponsel yang bisa mengirim SMS baru tersedia. Seiring dengan popularitas ponsel kala itu, maka komunikasi via SMS makin banyak dipakai oleh pengguna.   

Papworth mengatakan, teknologi SMS kala itu sangat mengubah drastis bagaimana orang berkomunikasi. Perubahan cara berkomunikasi ini menimbulkan kekhawatiran. 

"Miliaran orang mulai menggunakan pesan pendek untuk berkomunikasi, padahal sebelumnya mereka harus bertelpon. Tentu saja ini akan mengenalkan bahaya bahwa mereka harus fokus pada keypad dan layar bukan pada kondisi sekitar," ujarnya. 

Emoh pakai WhatsApp

Menariknya sebagai pengirim pertama SMS, pada masa online saat ini, Papworth mengaku tetap setia dengan layanan SMS, dia tidak tertarik memakai aplikasi perpesanan populer. 

"Saya tak memakai WhatsApp, tapi saya menggunakan beberapa media sosial seperti Skype dan Messenger Facebook. Saya masih mengirim SMS saat saya perlu penting dengan seseorang," katanya. 

Karena masih setia dengan SMS, Papworth mengatakan dia tidak menggunakan emoji yang sudah jamak dipakai pada masa kini. Dia mengaku menggunakan emotikon dengan cara sederhana, yakni menggunakan karakter tulisan seperti titik dua, tanda hubung dan lainnya. 

Karena saat ini pengguna sudah jamak dengan aplikasi perpesanan, Papworth mengakui penggunaan SMS bakal kian menyusut. Tapi menurut pengamatannya matinya SMS di luar prediksi. 

"Kehancuran SMS telah diprediksi minimal 10 tahun, namun butuh waktu lebih lama dari yang dipikirkan para ahli sebelum benar-benar mulai menurun." (mus)