Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 17 Juli 2017 | 06:17 WIB
  • Petualangan Ratu Hijab Online Cicipi Manisnya Vanilla

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Adinda Permatasari
Petualangan Ratu Hijab Online Cicipi Manisnya Vanilla
Photo :
  • instagram.com/intankf
Atina Maulina dan Intan Fauzia Kusuma

VIVA.co.id – Di sebuah restoran di kawasan Pondok Indah, seorang wanita muda didampingi sang kakak menyapa hangat VIVA.co.id dan beberapa teman media sebelum membuka pop up store perdananya, beberapa waktu lalu. Setelah mereka duduk di sudut restoran, obrolan pun mulai mengalir.

Wanita berhijab itu memulai perbincangan mengenai awal mulanya membangun bisnis hijab online atau daring bernama Vanilla Hijab. Dengan gaya bicara yang luwes, wanita bertubuh mungil ini mengungkapkan jatuh-bangun dan pahit-getirnya merintis bisnis yang kini terasa manis.

Meski masih muda, tapi dia tampak memiliki tekad yang kuat untuk mandiri. Pemikirannya pun sangat dewasa dibanding wanita muda seusianya. Begitu juga dengan penghasilannya yang bisa bikin geleng-geleng kepala.

Usianya baru 24 tahun, tapi sudah berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang nilainya bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah setiap bulannya. Itu semua buah dari ketekunannya berjualan hijab sejak usia cukup muda, 18 tahun.

Dan sosok di balik kesuksesan merek hijab paling diburu pembeli online di Indonesia itu adalah Atina Maulina. Konseptor dan pendiri Vanilla Hijab ini mengaku tak pernah membayangkan produknya akan begitu dicintai Muslimah Tanah Air. Dia juga tidak pernah menyangka, sakit yang pernah diderita hingga membuatnya banting setir berjualan online dengan modal nekat justru membawanya dinobatkan sebagai salah satu pengusaha muda sukses di Indonesia.

Itu lantaran hijab yang dijualnya selalu laris manis bak kacang goreng. Sehingga tak berlebihan rasanya jika Atina bersama kakaknya yang menjabat sebagai CEO Vanilla Hijab, Intan Fauzia Kusuma dijuluki sebagai ratu hijab online Indonesia. Dan berikut ini petikan wawancara dengan Atina.

Bagaimana awal cerita berjualan hijab online (daring)?

Awalnya saya kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan perminyakan. Namun pada tahun 2012, saya sakit rheumatoid arthritis (rematik) sampai tidak bisa jalan. Itu sakitnya berkepanjangan dan tidak sembuh-sembuh. Akhirnya, saya dipindah ke Jakarta dan kuliah di Jakarta mengambil jurusan manajemen tapi tidak suka dengan jurusan itu, sehingga saya cari pelarian dengan jualan hijab. Dahulu cita-citanya jadi insinyur perminyakan, tapi sekarang sudah tidak lagi.

Kenapa pilih hijab karena saya berpikir bahwa hijab itu tidak ribet, tidak ada ukurannya seperti baju ada S, M, L, sepatu ada nomor, kalau hijab itu saja, simple. Dan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat jadi mahasiswi adalah jualan online, akhirnya bikin jualan hijab online.

Dahulu saya tidak tahu caranya jualan online, berapa ongkosnya dan kirimnya bagaimana. Saya pura-pura jadi pembeli di toko online lain, saya tanya ongkos dari Jakarta ke Balikpapan berapa? Baru saya jawab ke konsumen saya. Saya benar-benar tidak tahu, cuma nekat saja saking inginnya bisa punya uang sendiri.

Berapa modal pertama?

Saya benar-benar tidak pakai modal karena saya berobat sudah menghabiskan uang orangtua sangat banyak, saya mau usaha ini dapat uang, tidak mau mengeluarkan. Akhirnya saya ke Mayestik, ke toko kain, saya cuma foto-foto. Foto-foto itu modalnya.

Saya foto-foto kainnya, saya masukin ke akun saya di Instagram (IG). Saya komentar di IG orang. Akhirnya kalau ada yang beli, mereka bayar dulu. Uang dari mereka, saya pakai untuk beli kain di Mayestik. Seperti itu terus sampai kira-kira dua bulan. Uang terkumpul, baru berani ke Thamrin City, beli hijab jadi.

Beli hijab jadi pun saya tidak berani stok, akhirnya saya cari di Google, saya pasang dahulu fotonya dan kalau ada yang beli, baru saya berangkat ke Thamrin City. Padahal saya juga tidak tahu di sana ada atau tidak yang jual hijab itu. Nekat saja. Saya ambil barang dari Thamrin City, pasar Tanah Abang lalu dijual. Sebelum punya rumah produksi, saya menggunakan jasa tukang jahit keliling yang pakai sepeda, yang saya cari sendiri karena tidak punya kenalan. Saya minta tolong mereka menjahitkan hijab.

Akhirnya, dia panggil temannya-temannya yang lain, dan dikerjakan di kos-kosannya. Lama-lama dia mengumpulkan temannya jadi banyak, berempat atau berlima di tahun kedua. Akhirnya, dia jadi kepala produksinya dan kita bina. Kita belikan mesin potong, mesin jahit. Itu tahun 2014 atau 2015.

Kemudian makin berkembang. Saya blusukan ke mana-mana karena memang benar-benar tidak punya penjahit. Kita kumpulkan dan minta bantuan, kita support, kita sewakan tempat dan kasih modal. Sekarang total penjahit dan finishing hampir 50 orang. Pekerja yang diserap sekitar 60 orang termasuk staf.

Bagaimana tanggapan keluarga?

Mama saya mendukung tapi awal-awal pasti keluarga dan orang terdekat berpikir ini cuma buat main-main saja. Paling angin-anginan tapi saya lakukan saja. Saya juga tidak bilang-bilang saya jualan, diam-diam saja. Bahkan, awalnya cari-cari kain masih ditemani mama. Akhirnya, Kak Intan ikut terjun membantu karena kasihan melihat saya sudah mulai ramai dan capek.

 

????

A post shared by Intan Kusuma Fauzia (@intankf) on