Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 8 Agustus 2017 | 16:56 WIB
  • Proses Rumit, Harga Tenun Sumba Termahal Bisa Ratusan Juta

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Bimo Aria
Proses Rumit, Harga Tenun Sumba Termahal Bisa Ratusan Juta
Photo :
  • VIVA.co.id/Bimo Aria
Acara kain tenun tradisional Sumba

VIVA.co.id – Sumba, sebagai salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur, tidak hanya kaya akan pesona keindahan alamnya, tapi juga hasil budayanya, salah satunya tenun Sumba. Dikenal karena kualitasnya, tenun Sumba punya tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat lokal.

Dikenal dengan Lakumba Nduma Luri, nama ini juga punya makna filosofis yang sangat berarti bagi masyarakat Sumba. Lakumba memiliki arti kapas atau benang, sedangkan Luri ialah kehidupan.

"Nduma itu artinya untuk. Jadi dari benang ini bisa menyambung segala sesuatu kehidupan kami, bisa menyekolahkan anak kami, bisa membeli makan," kata Fidelis Tasman Amat, anggota Kelompok Penenun Lukamba Nduma Luri, Waingapu, Sumba Timur saat ditemui di Jakarta, Selasa, 8 Agustus 2017.

Meski hanya sehelai kain, tapi bagi dia dan masyarakat Sumba, kain yang diberi sentuhan seni ini sangat berarti bagi kehidupannya serta masyarakat di Waingapu, Sumba Timur. Salah satu yang membuat kain tenun ini sangat berkualitas dan bernilai tinggi karena proses dan seluruh bahan pembuatannya dilakukan secara tradisional dengan bahan bahan alami.

"Proses tenun ikat itu agak beda dengan, misalnya batik, dan dengan tenun lainnya. (Tenun Sumba) sangat mengutamakan proses penenunan, pewarnaan dengan motifnya," kata Fidelis.

Untuk membuatnya, proses yang dilakukan adalah menenun benang dan juga pengikatan. Setelah itu, dilakukan pewarnaan. Ada dua warna utama, yakni merah dan biru.

"Merah itu dari akar mengkudu dan warna biru dari indigo, sedangkan hitam itu pencampuran warna merah dan biru, dan putih adalah warna dasar benang itu sendiri. Kalau kuning dari kayu kuning atau sogan," kata produsen kain tenun Sumba Timur ini.

 

Memperingati 72 tahun Hari Kemerdekaan Indonesia, Yayasan Dian Sastrowardoyo menggelar pameran foto, video, dan instalasi kain tenun tradisional Sumba pada tanggal 6 sampai 31 Agustus 2017, di Plaza Indonesia lantai 1. --- Pada pameran ini juga akan diadakan penggalangan dana dengan penjualan kain tenun Sumba Timur. Keuntungan penjualan kain tenun Sumba akan digunakan untuk pengadaan akses air bersih di Wairinding (bekerja sama dengan Waterhouse Project) dan juga untuk renovasi rumah tradisional di desa adat Prainatang , Sumba Timur. --- Penggalangan dana (khusus undangan) akan dilakukan pada: 8 Agustus 2017 15.00 – 18.00 La Moda Restaurant, Plaza Indonesia Lt.1 Media Partner : Harper's Bazaar Indonesia Esquire Her World Cosmopolitan --- #diansastrowardoyo #LukambaNdumaLuri

A post shared by Dian Sastrowardoyo (@therealdisastr) on

Menurut Fidelis, proses pewarnaan adalah salah satu yang membuat tenun ini menjadi mahal harganya. Karena selain butuh keuletan dan kesabaran agar tidak terjadi kesalahan. Proses ini bisa memakan waktu enam bulan atau paling lama tiga tahun.

"Dimasukkan ke dalam keranjang itu nanti terdapat pematangan warna secara alami, kita sering tergoda untuk melewatkan. Kalau kita tidak mengabaikan ini, kita akan mendapatkan hasil yang baik," ujarnya.

Adapun harga jual kain ini cukup tinggi, mulai Rp10 juta hingga Rp300 juta. Selain proses, motif tenun, dan panjangnya sangat berpengaruh terhadap harga jual.

"Untuk yang Rp10 juta itu bisa kurang lebih dua meter. Tapi ada juga yang lebih pendek tapi lebih mahal karena kualitasnya (lebih baik)," ujar Fidelis.