Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 16 Oktober 2017 | 14:08 WIB
  • Giliran Model Bongkar Pelecehan Seks di Industri Fesyen

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Linda Hasibuan
Giliran Model Bongkar Pelecehan Seks di Industri Fesyen
Photo :
  • Instagram Cameron Russell
Cameron Russell

VIVA.co.id – Setelah skandal seksual yang dilakukan produser ternama Hollywood, Harvey Weinstein terhadap karyawannya terbongkar, akhirnya banyak korban lain, termasuk sejumlah aktris ternama buka suara.

Angelina Jolie, Gwyneth Paltrow, dan Cara Delevingne adalah segelintir aktris yang pernah menjadi korban suami desainer Georgina Chapman itu.

Dipicu oleh terungkapnya skandal tersebut, pria dan wanita di industri lain mulai berani bicara tentang pengalaman pelecehan seksual dan kekerasan yang pernah mereka alami. Salah satunya adalah seorang model bernama Cameron Russell.

Dikutip dari Huffington Post, Senin 16 Oktober 2017, dia berbagi cerita dari model-model lain yang pernah menjadi korban eksploitasi dan pelecehan seksual dari oknum fotografer, agensi casting, desainer, dan lainnya.

Menurutnya, eksploitasi di berbagai industri sudah sering terjadi dan banyak korban tak berani mengungkapkannya, karena berbagai alasan.

"Kami butuh cara untuk bersuara, tetapi tetap dilindungi. Kami tidak hanya bicara tentang satu, lima, atau 20 orang. Kami bicara tentang budaya eksploitasi dan itu harus dihentikan," tulis dia dalam akunnya di media sosial.

Russell menambahkan, sering mendengar bahwa oknum-oknum tersebut melakukan eksploitasi, pelecehan, dan kekerasan dengan mengatasnamakan bagian dari seni, atau kreativitas. Dia mengunggah tulisan itu dan memberi tanda pagar ShouldNotIncludeAbuse.

Dengan menggunakan tanda pagar tersebut, beberapa model berbagi cerita bahwa mereka diminta untuk melakukan oral seks, diserang secara seksual oleh fotografer, atau menari telanjang saat melakukan casting, serta masih banyak lagi. Russell juga berbicara tentang pengalamannya sendiri yang pernah mendapatkan perlakuan tak pantas.

“Dalam banyak kesempatan saya disebut feminis, karena melaporkan hal-hal yang tidak pantas, seperti meraba, memukul, mencubit, kencan paksa, panggilan telepon, dan teks yang bersifat seksual serta lainnya,” tulisnya dalam akunnya di Instagram.

Ketika itu, menjadi bagian dari sebuah pekerjaan dan masih dalam tahap wajar, dia mengatakan, masih memberikan toleransi. Namun, ketika perlakuan yang diterimanya melewati batas, Russell menuturkan bahwa mengungkapkannya pada saat itu adalah hal yang menakutkan dan khawatir mendapat serangan balik setelah mendapatkan kejadian buruk dan memalukan. Sehingga, dia tak langsung mengungkapkan kejadian buruk tersebut pada saat itu.

Kendati demikian, Russell berupaya untuk mendorong model lain untuk berbagi cerita mengenai pelecehan yang pernah mereka alami. Diharapkan hal itu akan membantu mengakhiri budaya eksploitasi dan pelecehan seksual di industri fesyen. (asp)