Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 9 November 2017 | 12:45 WIB
  • Cara Aman Bisnis Barang Mewah agar Tak Terlilit Utang

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Linda Hasibuan
Cara Aman Bisnis Barang Mewah agar Tak Terlilit Utang
Photo :
  • VIVA.co/id/Nuvola Gloria
Tas mewah

VIVA – Baru-baru ini publik dihebohkan dengan kasus artis sekaligus presenter Angela Lee terkait utangnya yang mencapai puluhan miliar karena bisnis tas mewah. Mengenai hal tersebut, Marisa Tumbuan selaku pemilik butik Adelsbrandedbags dan founder Irresistible Bazaar mengatakan, bahwa menjalankan bisnis tas mewah tidak mudah.

Menurut dia, selain harus memiliki modal yang kuat, Anda juga harus pintar mengatur keuangan. Selain itu, harus mengerti dengan baik keaslian barang branded. Terpenting, mencari relasi atau rekan yang tepat dan bisa dipercaya.

“Memulai bisnis barang branded memang susah-susah gampang. Yang pasti mereka harus konsisten, modal dan mengenali jenis barang branded tersebut,” ujar Marisa kepada VIVA, belum lama ini.

Dia menuturkan, bahwa bagi yang ingin membeli barang branded dengan kredit, pastikan melalui fasilitas dari leasing company. Ini bisa menjadi cara tepat untuk mencegah kerugian dan penipuan antara pembeli dan penjual.

Dan bila si pembeli belum melakukan pembayaran secara lunas, sebaiknya jangan serahkan barang branded tersebut. Saran dia, buat perjanjian agar tak saling merugikan satu sama lain. “Kalau bisa jangan serahkan barang kalau belum lunas,” ucap dia.

Terkait barang mewah, Marisa mengatakan, barang bekas yang masih layak jual alias perloved branded makin banyak peminatnya karena lebih murah dengan kualitas baik. Kecintaan masyarakat urban akan barang branded melonjak signifikan.

“Bisa saya katakan market dan sumber barang preloved bisa dijual-belikan itu meningkat sekitar 20-30 persen dalam dua tahun terakhir. Kebutuhan perputaran tersebut cepat sekali,” ujarnya menjelaskan.

Dia mengatakan, harga barang preloved branded umumnya tidak anjlok sangat dalam karena produksinya tidak dibuat secara massal. Artinya produk bekas itu, kuantitasnya terbatas.

Menurut dia, barang preloved branded yang memiliki tampilan klasik punya harga stabil, namun disesuaikan dengan kondisi. Sementara barang dengan tampilan vintage yang usianya lebih tua dari klasik memiliki nilai jual lebih tinggi ketimbang harga asli karena terbatasnya produksi.

“Kalau dari segi harga biasanya model vintage akan naik karena jarang dan langka produknya. Sedangkan pada barang model klasik harganya itu stabil dan disesuaikan dengan kondisi. Persentase kenaikan harga tergantung merek dari harga beli, bisa naik 20 persen.” (mus)