Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 16 November 2017 | 12:28 WIB
  • Menguak Bahaya Suntik Silikon untuk Bokong

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Diza Liane Sahputri
Menguak Bahaya Suntik Silikon untuk Bokong
Photo :
  • REUTERS / Lucas Jackson
Pasangan Kanye West dan Kim Kardashian

VIVA – Bintang Reality Show, Kim Kardashian bukan hanya dikenal karena acaranya, Keeping up With The Kardashian. Kini, Kim juga selalu menjadi role model karena penampilannya yang seksi. Yang paling menonjol, karena bokongnya yang super seksi. Tidak sedikit kaum wanita, mengikuti jejaknya, mengubah bokong yang biasa menjadi lebih berisi seperti layaknya milik Kim Kardashian.

Salah satu caranya, dengan menyuntikkan silikon di bokong. Namun tahukah Anda, suntik silikon di bokong belakangan menimbulkan pro dan kontra. Apalagi,  Food and Drug Administration atau badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat memberi tanda bahaya akibat pemakaian silikon untuk area bokong.

"Silikon menyebar dan bermigrasi dengan mudah di dalam tubuh, yang membuat minyak silikon menyebar dan sulit lagi dijangkau untuk dikeluarkan kembali," ujar FDA seperti dikutip dari laman NY Post.

"Silikon, saat diinjeksi ke area yang banyak pembuluh darah seperti bokong, dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan memblok peredaran darah ke paru-paru, jantung, atau otak. Ini bisa berdampak pada stroke atau kematian."

Silikon suntik berbeda dengan silikon yang digunakan untuk implan payudara. FDA tidak pernah menyetujui pemakaian silikon suntik tersebut. Dokter disarankan untuk memberitahu dampak bahaya itu ke pasien saat akan melakukan prosedur tersebut.

"Masalahnya semakin banyak orang yang bergantung pada prosedur ini," ujar dokter spesialis kulit kecantikan, dr. Paul Jarrod Frank.

Dokter Paul menegaskan agar para pasien melihat adanya sertifikat dokter bedah plastik atau kulit, dan menghindari perawatan yang tidak sesuai medis. Selain itu, sebaiknya para pasien memahami bahwa silikon suntik adalah hal ilegal dan berbahaya untuk dilakukan para dokter.