Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 30 November 2017 | 17:34 WIB
  • Busana Ramah Lingkungan, Ria Miranda Pakai Kulit Alpukat

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Diza Liane Sahputri
Busana Ramah Lingkungan, Ria Miranda Pakai Kulit Alpukat
Photo :
  • VIVA.co.id/Diza Liane Sahputri
Koleksi Eucaflora dari Ria Miranda

VIVA – Tanpa disangka, sesuatu yang dianggap sebagai sampah bisa dijadikan barang yang bermanfaat. Salah satunya ide kreatif dari perancang busana Tanah Air, Ria Miranda, yang menggunakan berbagai bahan bunga, buah atau rempah sisa dalam rancangannya.

Adalah Eucaflora, koleksi teranyar Ria yang terinspirasi dari keinginannya menikmati fesyen daur ulang dan sustainable. Bahan pewarna yang dipakai Ria merupakan bahan alami yang berasal dari sisa kulit buah, reruntuhan bunga, dan rempah dapur.

"Cangkang kulit alpukat, sisa bunga, dan kulit kayu manis menjadi bahan dasar dari pewarnaan alami Eucaflora. Kain yang digunakan yaitu pure silk agar benar-benar terkesan jatuh dan warna alam serta natural yang berasal dari bahan alami itu," kata Ria dalam acara ‘Wardah Mendukung Dubai Fashion Week 2017’ di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis 30 November 2017.

Menurut dia, sisa bahan tersebut direbus untuk menghasilkan warna-warna pastel khas rancangannya. Ide ini tidak dituangkan secara mudah, sebab proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama hingga tujuh bulan.

"Ini melalui proses trial and error, kami coba dulu ini hasilnya warna apa, lalu diketok-ketok warnanya ke kain. Tapi, warna ini sudah dicoba awet saat dicuci, asal dilakukan dengan cara dry clean atau cuci pakai softener dan bukan menggunakan detergen," kata desainer cantik itu.

Setelah proses pewarnaan, Ria melanjutkan, kainnya memasuki tahap pengeringan. Kemudian, baru bisa dijahit dan disulam.

Rancangannya ini akan ditampilkan di Dubai Modest Fashion Week 2017 bersama Wardah dengan satu muse dari selebriti Marini Zumarnis. Siluetnya masih mengambil ciri khas Ria yang sederhana dengan sedikit tempelan payet di beberapa area.

"Look-nya feminim dan banyak drapperi (kesan jatuh) dari mulai dress, blazer, dan rok. Enggak ada yang beda dengan koleksi sebelumnya, hanya saja kisah di balik pembuatannya dengan bahan alami tanpa zat kimia yang menjadi daya tarik tersendiri," ujar dia.

Lalu, berapa harga yang ditawarkan untuk rancangannya yang ramah lingkungan ini?

"Itu masih belum tahu. Tapi, harusnya sih murah, mengingat bahan-bahan pewarna yang dipakai itu mudah diambil dan enggak mahal, prosesnya saja yang lama," kata Ria. (art)