Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 8 Oktober 2017 | 01:12 WIB
  • Kampua, Mata Uang Pertama Kerajaan Buton Terbuat dari Tenun

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Kamarudin Egi (Kendari)
Kampua, Mata Uang Pertama Kerajaan Buton Terbuat dari Tenun
Photo :
  • VIVA.co.id/Kamarudin Egi
Kampua, mata uang Kerajaan Buton

VIVA.co.id – Masyarakat pada umumnya dalam mengenal kata tenun berarti mengenal sebuah teknik dalam pembuatan kain. Tidak lebih dari itu, tenun semata-mata merupakan benda yang mempunyai corak nan indah.

Pembuatan kain yang dibuat dengan prinsip sederhana, dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang, atau dengan kata lain bersilangnya antara benang lusi dan benang pakan secara bergantian. Merupakan proses pembuatan kain tenun.

Namun siapa sangka, ternyata tenun pernah dianggap sebagai uang kertas oleh masyarakat. Tenun dijadikan sebagai alat tukar menukar. Alat untuk proses beli membeli.

Uang yang terbuat dari tenun tersebut pernah digunakan oleh masyarakat Kerajaan Buton. Masyarakat Buton yang kini menjadi Kabupaten Buton, di Provinsi Sulawesi Tenggara, pada mulanya menjadikan tenun sebagai uang. Uang ini diberi nama "Kampua".

Kampua adalah sebuah kain tenun kecil bersegi empat, yang mempunyai corak indah hasil karya wanita-wanita Kerajaan Buton masa itu.

"Ini uang kuno namanya. Jadi masyarakat Buton waktu itu pakai kain ini untuk membeli," kata Ahmadi, seorang penjaga benda pusaka di Kendari kepada VIVA.co.id.

Kampua sendiri katanya, mempunyai nilai tukar yang berbeda-beda. Semakin banyak serat dalam uang tenun tersebut maka nilainya sebagai tinggi.

Sedang yang seratnya sedikit nilainya kecil. Jika sekarang antara seribu rupiah dan seratus ribu rupiah. Begitu kira-kira kita menggambarkan kondisi uang ini kala itu, kata Ahmadi.

Hasil penelitian katanya, uang tenun Kampua pertama kali diperkenalkan oleh Bulawambona, yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua, pada abad XIV. Uang tersebut dibuat oleh seorang menteri keuangan kerajaan Buton yang disebut dengan kata Bontogeno.

Hal unik lainnya, uang tersebut besarnya harus disesuaikan dengan besaran telapak tangan menteri keuangan masa itu.

"Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia," kata Ahmadi menyambungkan cerita.

Rupanya uang jenis ini setiap tahun coraknya dibuat berbeda untuk menghindari pemalsuan. Pemalsu uang Kampua dapat dituntut hukuman mati.

Uang Kampua, hingga saat ini masih terjaga rapi di Museum Kendari. Umurnya diperkirakan sudah 700 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata jauh sebelum pemerintah Indonesia menjadikan rupiah sebagai mata uang resmi dan alat tukar, masyarakat di Provinsi Sulawesi Tenggara sudah mengenal yang namanya uang.