Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 13 Oktober 2017 | 06:30 WIB
  • Mbah Rasimun, Satu-satunya Pengrajin Payung Kertas di Malang

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Lucky Aditya (Malang)
Mbah Rasimun, Satu-satunya Pengrajin Payung Kertas di Malang
Photo :
  • VIVA.co.id/Lucky Aditya
Mbah Rasimun, pengrajin payung kertas.

VIVA.co.id – Di masa lalu, payung kertas menjadi alat utama masyarakat untuk melindungi diri dari terjangan hujan ataupun panas. Kali ini peran payung kertas mulai terpinggirkan. Didominasi dengan payung plastik. Selain lebih ringan, payung plastik lebih ekonomis dari payung kertas.

Rasimun (90 tahun), kakek dengan tujuh anak dan 21 cucu merupakan pengerajin payung kertas dan pelestari payung tradisional itu di Malang, Jawa Timur. Atas peran itu, pria yang akrab disapa Mbah Rasimun itu pernah mendapatkan penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya.

"Saat ini teman sudah banyak yang meninggal dunia, tinggal saya sendiri di Kota Malang. Cuma saya sendiri sekarang yang membuat dan melestarikan. Saya juga pernah dapat penghargaan dari Kerajaan Solo," kata Mbah Rasimun kepada VIVA.co.id di Malang, Kamis, 12 Oktober 2017.

Mbah Rasimun mengaku, karyanya saat ini bukan lagi menjadi payung pelindung badan namun lebih ke kerajinan atau payung hias. Namun soal fungsi, Mbah Rasimun memastikan jika payung kertas miliknya bisa digunakan untuk melindungi badan dari hujan dan panas.

"Dahulu ya ini yang dibuat payungan. Sekarang ini jadi payung sejarah, tapi payung saya masih laku di Solo. Orang dahulu menyebut ini payung 'mutho'. Ini payung mbah-mbah sejak zaman dahulu," ucap Mbah Rasimun.

Payung kertas tradisional Mbah Rasimun ramai dicari saat memasuki Bulan Suro. Ia mengaku kebanjiran pesanan saat menjelang dan memasuki Bulan Suro. Harga yang dijual per payung Rp50 ribu untuk pemesanan di bawah 100 biji. Sedangkan pemesanan di atas 100 biji, satuannya dihargai Rp40 ribu.

"Saya terusin daripada nganggur. Saya kerjakan daripada stres. Jadi keterampilan ini saya teruskan saja. Kalau Bulan Suro pesanan banyak sekali," ujarnya.

Selain dijual di pasar domestik, seperti di sekitar Malang dan Solo, ternyata payung kertas tradisional karya Mbah Rasimun juga diminati pasar internasional. Di antaranya Malaysia, China dan Jepang yang rutin memesan payung kertas tradisional.

"Bahan membuat payung dari, bambu, benang, pohon randu, lem, jarum, paku, kawat dan kertas yang sudah dicat. Kena air enggak masalah. Sekarang jadi payung tempo dahulu atau payung lawas," ucap Mbah Rasimun.

Payung kertas buatan mbah Rasimun.

                                        (VIVA.co.id/Lucky Aditya)

Rasimun menyebut, tidak mudah membuat payung kertas tradisional, ada 62 proses dalam membuat payung. Sedangkan soal corak motif yang tergambar di payung, ia mengaku menggambarnya secara otodidak.

"Saya kalau gambar pakai perkiraan bagaimana pantasnya. Tidak ada patokan khusus untuk gambar payung," kata Mbah Rasimun.

Agus Susianto Ketua RW 03, Kelurahan Pandanwangi mengatakan, Kampung Lowokpadas atau Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang taruna 3 RT 04 RW 03 dulu terkenal sebagai sentra payung di tahun 1950 hingga 1970-an. Warga sekitar pun berinisiatif menjadikan kampung Lowokpadas sebagai Kampung Payung Kertas.

"Kita akan kumpulkan orangtua untuk membuat paguyuban. Apalagi kampung kita akan dijadikan kampung payung,” ujar Agus.

Warga sekitar juga berinisiatif menjadikan Mbah Rasimun sebagai guru pembuat payung kertas tradisional. Ia dianggap sebagai maestro pembuat payung kertas tradisional. Ilmu yang dipunyai diharapkan dapat diajarkan kepada calon penerus kerajinan payung kertas.

"Mbah Rasimun nanti diminta untuk mengajarkan praktik membuat payung. Tetap di bawah binaan Mbah Rasimun. Yang menentukan pengerjaan beliau. Tujuannya warga yang tidak punya pekerjaan bisa bekerja membuat payung," kata Agus.