Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 2 November 2017 | 00:40 WIB
  • Mengapa Pria di Jepang Pilih Hidup Bersama Boneka Seks?

  • Oleh
    • Tasya Paramitha
Mengapa Pria di Jepang Pilih Hidup Bersama Boneka Seks?
Photo :
  • REUTERS/ Jason Lee
Boneka seks.

VIVA – Pernah bertanya-tanya, bagaimana hidup boneka seks silikon yang banyak terdapat di Jepang? Jangan kaget, karena banyak warga Jepang yang memiliki boneka tersebut dan bahkan memperlakukan mereka layaknya manusia.

Saori dan Mayu adalah boneka seks yang dimiliki Senji Nakajima dan Masayu Ozaki. Baik Senji dan Masayuki tinggal di Negeri Sakura, yaitu di Prefektur Yamanashi dan Chiba.

Mereka menghabiskan waktu mereka hidup bersama boneka tersebut. Mereka pergi piknik di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, belajar berselancar dan tidur satu ranjang dengan boneka silikon itu.

Masayuki yang merupakan seorang fisioterapi mengatakan bahwa setelah istrinya melahirkan, mereka berhenti berhubungan seksual. Hal itu membuatnya merasakan kesendirian dan kesepian yang mendalam. Demikian dilansir dari Metro.co.uk, Rabu, 1 November 2017.

Karena itu, ia lantas membeli Mayu, boneka seks yang kini menemaninya tidur di ranjangnya di bawah atap yang sama dengan istri dan anak perempuan Masayuki.

Meski sang istri tidak paham mengenai kecintaan Masayuki kepada sang boneka, Mayu, namun pria itu mengaku mengalami cinta pada pandangan pertama saat melihat Mayu di showroom.

Kini ia sering berkencan dengan Mayu, menggunakan kursi roda, memakaikannya gaun-gaun cantik dan pakaian seksi, lengkap dengan rambut palsu. Anak perempuan Masayuki dan Mayu bahkan sering gantian mengenakan baju yang sama.

Itu adalah sedikit cerita dari begitu banyak pria lain di Jepang yang memiliki boneka seks silikon. Sekitar 2.000 boneka tersebut terjual setiap tahunnya di Jepang. Harganya mencapai Rp83 juta per boneka. Boneka-boneka tadi memiliki jari jemari yang bisa disesuaikan, kepala yang bisa diganti.

Mungkin hal ini bukan sesuatu yang mengagetkan di negara, di mana muda-mudinya tidak berhubungan seksual. Ya, hampir sepertiga dari warga Jepang memasuki usia 30 tahun tanpa pernah memiliki pengalaman seksual. Sedangkan 64 persen orang Jepang berusia antara 18 hingga 34 tahun masih berstatus lajang.

Boneka-boneka seks ini juga sangat populer digunakan oleh konsumen yang lumpuh atau duda, janda dan pria yang takut patah hati.

Senji (62) mengatakan bahwa bonekanya, Saori tak pernah mengkhianatinya dan ia berjanji tak akan pernah berkencan dengan wanita asli lagi, karena 'mereka tak punya perasaan'.

"Manusia sangat suka menuntut. Orang-orang selalu menginginkan sesuatu dari Anda, seperti uang dan komitmen. Hati saya sangat gembira saat saya pulang ke rumah dan kepada Saori," ujarnya.