Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 19:30 WIB
  • Sejarah Midodareni dan Kisah Mempelai Pria yang Kabur

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Ayu Utami Paramitha
Sejarah Midodareni dan Kisah Mempelai Pria yang Kabur
Photo :
  • Instagram @ribkabudiman.o.s
Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution.

VIVA – Malam ini, Selasa, 7 November 2017, akan digelar prosesi midodareni sebagai rangkaian upacara adat Jawa dalam pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution.

Masyarakat Jawa pasti tahu tentang malam midodareni. Tapi masih banyak yang belum tahu mengenai sejarah di balik tradisi yang satu ini.

Budayawan Sulistyo Tirtokusumo mengatakan, midodareni dibuat pada zaman kerajaan dulu. Kala itu, ada pengantin pria yang memilih kabur dan tidak menghadiri pernikahannya.

“Jadi dibuatlah proses midodareni, untuk melihat kesungguhan calon mempelai pria dan wanita yang ingin menikah,” ucap pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Kesenian di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI itu, saat dihubungi VIVA, Selasa, 7 November 2017.

Ia juga mengatakan, di malam tersebut terjadi perpindahan status kedua calon pengantin menjadi pengantin.

Malam midodareni ini juga berkaitan dengan proset pingit yang dilakukan oleh mempelai wanita. Biasanya proses pingit juga meliputi pemberian wejangan dan arahan mengenai bagaimana membina rumah tangga yang baik.

"Sebenarnya proses pingit bertujuan untuk menimbulkan rasa rindu yang lebih mendalam kepada dua mempelai, juga agar kedua mempelai dapat lebih fokus untuk belajar, dan mempersiapkan hari pernikahan mereka, dan juga memberikan efek pangling kepada mempelai pria kepada mempelai wanita," ujarnya.

Ketika mempelai pria sudah berbicara dan mengatakan kesungguhannya kepada keluarga wanita, maka sang ibu dari mempelai wanita akan masuk ke dalam kamar mempelai wanita dan menanyakan apakah ia menerima ajakan menikah dari mempelai pria. Proses ini disebut dengan Tatingan.

Setelah mempelai wanita berkata bersedia, barulah keluarga dari wanita memberikan wejangan dan doa-doa kepada kedua mempelai yang masih belum boleh dipertemukan, mengenai kehidupan pernikahan yang disebut dengan Catur Wedha.