Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 9 November 2017 | 08:10 WIB
  • Keren, 'Kehebatan' Tempe Sudah Sampai Harvard

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati
Keren, 'Kehebatan' Tempe Sudah Sampai Harvard
Photo :
  • TVOne
Tempe.

VIVA – Tempe menjadi salah satu makanan yang mudah ditemui di Indonesia. Namun sebagian rakyat Indonesia menganggapnya sebagai penganan kalangan kelas bawah.

Padahal, tempe memiliki kandungan protein setara dengan daging sapi. Bahkan menurut Pendiri dan Koordinator Indonesia Tempe Movement (ITM) Amadeus Driando Ahnan, tempe lebih sehat dibanding daging sapi lantaran tidak mengandung lemak jenuh.

Selain itu, tempe lebih ramah lingkungan karena proses produksinya hanya membutuhkan 10 persen dari energi yang dibutuhkan untuk memproduksi daging sapi. “Di Amerika Serikat, tempe dijual seharga US$1,99 (sekitar Rp27 ribu) untuk 226,8 gram. Sementara satu potong steak daging sapi bisa seharga lebih dari US$7 (sekitar Rp95 ribu),” ujar Ando dalam rilis yang diterima VIVA, Kamis, 9 November 2017.

Dia menjelaskan hal tersebut ketika menjadi pembicara di Harvard Business School, Boston, Massachusetts, AS, Selasa, 7 November 2017 lalu. Ando, mahasiswa S3 Food Science di University of Massachusetts, memberikan sesi berjudul Why Would "Food for the Poor" Tempe Matter for Global Health dalam pertemuan Harvard Global Health Shared Interest Group. Ini merupakan komunitas akademisi Harvard lintas bidang yang memiliki minat mengenai kesehatan global.

Dalam kesempatan diskusi bersama para mahasiswa dan peneliti, Ando berbagi pengalaman ITM sebagai gerakan nonprofit dengan tujuan memberikan akses masyarakat terhadap makanan sehat, ramah lingkungan dan terjangkau. Dia juga menekankan bahwa tempe bukan hanya sekadar makanan asli Indonesia, namun membawa nilai-nilai dan kearifan lokal Indonesia.

Tempe di Indonesia mempunyai nilai budaya yang tinggi. Meskipun demikian, masih ada yang menganggap tempe adalah makanan orang tidak mampu, padahal merupakan solusi bagi pemerintah dalam memberikan akses makanan bergizi untuk rakyatnya.

Diskusi tersebut menarik antusiasme peserta untuk mendengar secara langsung pengalaman memulai dan mengembangkan gerakan ITM. Disebutkan bahwa gerakan ini juga bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi kesehatan global.

Sementara itu, acara tersebut mendapat dukungan dari KBRI Washington DC. Sinergi ITM dan KBRI berlangsung sejak September 2017 dalam pelaksanaan DC Vegan Festival, yang berhasil menarik lebih dari 1.350 pengunjung untuk menikmati kelezatan Tempe.

“Dukungan KBRI kepada Ando dari Indonesian Tempe Movement dalam memenuhi undangan untuk berbicara di Harvard Business School mengenai manfaat Tempe merupakan satu sinergi yang strategis untuk mendukung promosi Tempe sebagai produk budaya Indonesia dalam keseharian masyarakat Amerika Serikat," kata Budi Bowoleksono, Dubes RI untuk Amerika Serikat.