Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 24 November 2017 | 00:02 WIB
  • Kisah Tunadaksa Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Adinda Permatasari
Kisah Tunadaksa Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus
Photo :
  • VIVA.co.id/Adinda Permatasari
Mohamad Hikmat, tuna daksa yang menjadi guru.

VIVA – Melihat kondisi fisik Mohamad Hikmat, mungkin banyak yang akan meragukan kemampuannya untuk bisa mengajar. Apalagi murid yang diajarnya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Tapi, pria berusia 24 tahun itu membuktikan sebaliknya. Ia bisa mengajar dengan baik, tidak berbeda dengan para guru pada umumnya.

"Ada yang bertanya bagaimana mengajarnya, jalan saja sudah. Pada kenyataannya tidak ada masalah," ujar Hikmat saat ditemui usai seminar bertajuk Guruku Cerdas, Guruku Berkarakter di Permata Bank, Jakarta, Kamis, 23 November 2017.

Saat ini Hikmat mengajar di Sekolah Luar Biasa Bhakti Pertiwi Sukabumi. Hampir semua anak berkebutuhan khusus seperti tuna netra, tuna rungu, dan tuna grahita pernah diajarnya.

Mengajar di SLB memang berbeda dengan sekolah umum. Jumlah siswa lebih sedikit, sehingga hal ini memungkinkan Hikmat untuk tidak peru banyak berjalan ke sana ke mari.

Dalam mengajar pun pria yang mengajar mata pelajaran musik ini punya cara sendiri. Yakni dengan memposisikan murid sebagai sahabat.

"Pagi-pagi sebelum belajar, saya sudah komitmen untuk bermain peran. Sebelum belajar, saya merangkul mereka tidak bersikap sebagai guru," ujarnya.

Bahkan saking akrabnya, Hikmat tidak segan berbalas komentar di media sosial. Meski begitu, ia juga selalu menjaga batas keakrabannya agar para murid tetap menghormatinya sebagai orang tua.

Mengajar anak berkebutuhan khusus, menurut pria yang menempuh pendidikan sekolah luar biasa ini memberinya banyak motivasi hidup.

"Saya jadi banyak tafakur diri. Saya yang jadi termotivasi seperti anak tuna rungu yang karakteristiknya tekun," kata Hikmat.

Tapi, status honorer dengan gaji hanya Rp300 ribu per bulan sempat membuat Hikmat ingin berhenti menjadi guru SLB. Namun, niatnya terpatahkan setelah berpikir bahwa menjadi guru pun ia harus ikhlas.

Selain itu, ia juga ingin menjadi motivator bagi para muridnya.

"Kalau ada anak yang mengeluh atau putus asa, saya bisa memberikan contoh bagi mereka," imbuhnya.