Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 26 November 2017 | 16:25 WIB
  • Kisah Inspiratif Pendiri Kafe Tungarungu di Tangerang

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Linda Hasibuan
Kisah Inspiratif Pendiri Kafe Tungarungu di Tangerang
Photo :
  • Instagram/@deafcafefingertalk
Deaf Cafe Finger Talk cabang Tangerang

VIVA – Membangun bisnis kuliner tentunya membutuhkan tekad yang teguh. Segala persiapan dan konsep pun harus dipikirkan dengan baik dan matang.

Namun ini berbeda dengan yang dilakukan Dissa Syakini yang mendirikan rumah makan dengan pengalaman berbeda. Bagaimana tidak, Dissa sengaja membuat kedai tersebut dengan mempekerjakan karyawan yang menderita tunarungu.

Rumah makan bernama Finger Talk Cafe yang berada di daerah Pamulang, Tangerang itu terinspirasi oleh sebuah kafe yang berada di kota Granada yakni Café de Las Sonrisas.

Kafe itu memiliki pegawai yang semuanya adalah kaum deaf dengan pemilik seorang hearing (sebutan orang normal yang mengerti dan bisa bahasa isyarat).

Dari hal tersebut, Dissa pun merasa terpacu untuk mendirikan hal yang sama. Sedikit demi sedikit, Dissa juga memberikan pelatihan kepada karyawannya dengan mengajarkannya memasak, menjadi kasir dan melayani tamu.

“Saat saya ke Nikaragua saya menemukam sebuah tempat makan yang unik namun memperkerjakan pegawai tunarunggu. Kemesraan komunikasi yang terjadi antara bos dengan pegawainya itu  menginspirasi dan memicu semangat saya untuk mendirikan hal yang sama di sini,” ujar Dissa saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Minggu, 26 November 2017.

Meski demikian, itu bukanlah hal yang mudah baginya sebab di awal pembukaan, mereka masih belum terbiasa dan sulit bekerja. Namun, perlahan semua berjalan normal. Mereka bisa bekerja dengan rapi.

Tempat makan yang telah berdiri sejak tahun 2015 ini sekarang telah sukses karena telah memperkerjakan 32 penderita tunarungu. Bahkan kini Dissa telah menambah bisnis baru di bidang jas cuci mobil.

Adapun ketertarikan Dissa dengan menggandeng penderita tunarunggu sebagai kardalah karena selama ini dia melihat kurang adanya lapangan pekerjaan yang memperkejakan tunarungu. Dengan ini, diharapkan para tunarungu juga dapat berpenghasilan dan memiliki pekerjaan.

“Saya melihat para tunarungu jarang memiliki pekerjaan. Dengan adanya kafe ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi siapa pun, baik kaum tunarungu  dan mereka yang normal, untuk saling berkomunikasi dan membuka wawasan,” ucap dia.