Studi: Musik Bisa Membantu Redakan Rasa Nyeri

Ilustrasi mendengarkan musik.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id – Selain pengobatan tradisional dan konsumsi obat-obatan medis, dalam sebuah jurnal penelitian disebutkan, mendengarkan musik dapat mengurangi nyeri atau rasa sakit yang berhubungan dengan kanker atau kondisi lainnya.

Vaksin Merah Putih Buatan Unair Bersiap Diuji Klinis

Pada Journal of Music Therapy, yang terbit Oktober 2016, ditulis bahwa ternyata musik memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap nyeri.

"Kami telah mengamati efek ini dalam beberapa pemeriksaan klinis seperti rumah sakit dan fasilitas medis lainnya," kata Jin Hyung Lee penulis jurnal tersebut.

Rencana Penggunaan Vaksin Merah Putih Jadi Booster Disambut Baik

Dilansir dari laman Reuters. Lee mengatakan, selain banyaknya uji klinis yang menyelidiki efek dari intervensi musik pada rasa sakit, ia juga melihat peningkatan jumlah terapis musik yang bekerja di rumah sakit.  

Lee meneliti kembali 97 uji coba secara acak yang dilakukan antara tahun 1995 dan 2014 yang melibatkan 9.147 peserta. Kebanyakan percobaan tersebut melibatkan interaksi dengan terapis musik untuk pengobatan.

BPOM: Data Uji Klinik Ivermectin untuk Obat COVID-19 Belum Tersedia

Uji coba tersebut memeriksa dampak intensitas nyeri yang dilaporkan oleh responden seperti tekanan emosional dari rasa sakit, gejala serius yang dialami serta jumlah obat penghilang rasa sakit yang diambil.

Beberapa penelitian yang di-review Lee tersebut membiarkan peserta memilih jenis musik yang mereka ingin dengarkan, seringkali termasuk klasik, easy listening, slow jazz, dan soft rock.

Seperempat dari uji coba menggunakan musik yang dipilih oleh peneliti. Rata-rata, peserta mendengarkan sekitar 38 menit musik selama percobaan.

Secara keseluruhan, pasien yang mendapatkan intervensi musik berhasil dinilai bahwa intensitas nyeri mereka berada pada satu titik rendah, yakni nol sampai skala 10 setelah sesi musik dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan musik. Tapi, hasilnya tidak konsisten di antara semua studi.

Studi ini juga menemukan penurunan yang signifikan dalam penggunaan anestesi (obat-obatan) di kelompok musik dibandingkan dengan kelompok non-musik. Selain itu, denyut jantung, tekanan darah dan laju respirasi diketahui lebih rendah di antara peserta dalam kelompok musik.

Musik merangsang indera selain reseptor rasa sakit, sehingga menarik perhatian pasien, mengurangi stres dan kecemasan dengan kualitas menenangkan.

"Selain itu, terapis musik menyediakan terapi dengan berbagai musik yang lebih spesifik seperti misalnya untuk menimbulkan harapan dan kontrol diri, sehingga mampu menstimulus pasien," katanya.

Meskipun efektif, pengobatan lewat musik ini tidak dijadikan pengobatan utama untuk mengatasi penyakit. Lee menegaskan, selama melakukan pengobatan lewat musik, pasien juga masih mengonsumsi pengobatan komplementer dan perawatan medis yang dianjurkan.

Musik hanya mengalihkan perhatian dan membuat pasien lebih santai, kata Dr. John Marshall dari University of Missouri School of Medicine di Columbia, Missouri.

"Ketika melakukan studi musik pada pasien kolonoskopi bertahun-tahun yang lalu, kami juga memberikan pasien obat penenang," kata Marshall. Para pasien terjaga selama prosedur mereka. Musik tampaknya menjadi tambahan yang  membantu untuk meningkatkan pengalaman pasien.

"Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan ketika merancang sebuah program musik untuk pasien. Jadi saya akan merekomendasikan konsultasi terapis musik ketika membentuk program pengobatan musik," kata Lee.

mendengarkan musik

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya