Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 16 Juli 2017 | 05:30 WIB
  • Sering Kerja Lembur Tingkatkan Risiko Sakit Jantung

  • Oleh
    • Irfan Laskito,
    • Adinda Permatasari
Sering Kerja Lembur Tingkatkan Risiko Sakit Jantung
Photo :
  • pixabay/geralt
Ilustrasi serangan jantung.

VIVA.co.id – Sudah banyak diketahui jika bekerja lembur dengan jangka waktu yang melebihi seharusnya bisa berakibat bagi karyawan. Mulai dari suasana hati, tingkat stres, bahkan berpengaruh pada berat badan.

Sekarang, sebuah penelitian baru mengungkapkan fakta bahaya jantung bagi pekerja yang sering lembur. Penelitian tersebut mengatakan, orang yang bekerja lebih dari 55 jam seminggu bisa mengalami peningkatan risiko terkena atrial fibrillation, detak jantung tidak teratur yang berkaitan dengan stroke dan masalah jantung lainnya, dibandingkan orang yang bekerja 40 jam atau kurang dalam seminggu.

Dilansir laman TIME, analisis baru ini, yang diterbitkan di European Heart Journal dan dilakukan oleh peneliti dia University College London, menggabungkan data dari delapan penelitian sebelumnya, yang mengikutsertakan lebih dari 85 ribu pria dan wanita dari Inggris, Denmark, Swedia, dan Finlandia.

Pada saat penelitian dimulai, tidak ada satu pun dari partisipan yang memiliki atria fibrillation (yang dikenal juga dengan AFib). Namun, 1.061 orang mengalami AFib dalam jangka waktu 10 tahun kemudian.

Angka tersebut sama dengan 12,4 kasus AFib per 1.000 orang dalam penelitian. Tapi, ketika para peneliti melihat secara spesifik pada mereka yang bekerja 55 jam dalam seminggu atau lebih, angka tersebut meningkat hingga 17,6 per 1.000 kasus.

Dengan kata lain, mereka yang bekerja lebih panjang memiliki risiko AFib 40 persen, dibanding mereka yang hanya bekerja 35-40 jam seminggu. Bahkan hasilnya sama setelah menyesuaikan faktor usia, jenis kelamin, obesitas, status sosial ekonomi, status merokok, konsumsi alkohol yang berisiko, dan aktivitas fisik di waktu senggang.

Temuan lain, 90 persen dari kasus yang muncul terjadi pada mereka yang belum pernah mengalami gangguan kardiovaskular. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ini benar-benar karena waktu kerja yang berlebihan, dan tidak ada kondisi sebelumnya yang bisa meningkatkan risiko AFib.

Meski demikian, para peneliti menulis kalau peningkatan risiko AFib pada seseorang yang bekerja dalam waktu panjang, relatif ringan. Tapi, bagi mereka yang sudah memiliki faktor risiko seperti usia tua, pria, diabetes, atau merokok, risiko tambahan bisa menjadi penting.

Para peneliti tidak bisa mengatakan secara pasti seberapa lama waktu tambahan kerja yang bisa memicu detak jantung tidak teratur. Tapi, mereka mencurigai kalau stres dan kelelahan berperan besar, sehingga membuat kardiovaskular dan sistem saraf otonomik lebih rentan mengalami abnormalitas. (mus)