Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 12:14 WIB
  • Awalnya Hanya Sariawan, Ternyata Kena Kanker Lidah Stadium 4

  • Oleh
    • Anisa Widiarini
Awalnya Hanya Sariawan, Ternyata Kena Kanker Lidah Stadium 4
Photo :
  • Facebook/ Rezy Selvia Dewi
Rezy Selvia Dewi dan suaminya penderita kanker lidah

VIVA.co.id – Suatu kisah pilu tengah beredar luas di media sosial. Seorang istri menceritakan pengalamannya menemani suaminya yang terkena kanker lidah hingga dia meninggal dunia.

Rezy Selvia Dewi sungguh tak menduga kejadian ini menimpa suaminya Andrie Kurnia Farid. Padahal gejala awal yangh ditimbulkan hanya seperti sariawan biasa. Namun setelah diperiksa, suaminya didiagnosis mengidap kanker lidah stadium 4.

Kisah tersebut diposting melalui akun Facebook Rezy sendiri dan telah disebarkan hingga 200.134 kali, dan ini akan terus bertambah. Para warganet pun membanjiri postingan Rezky dengan ucapan belasungkawa hingga 96 ribu komentar.

Berikut ini kisah pilu yang dialami Rezky, agar menjadi pelajaran bagi kita semua.

"SELAMAT JALAN SUAMIKU," tulis Rezy dalam akun facebooknya yang diunggah 5 Agustus 2017.

Ia memulai ceritanya dengan mengatakan bahwa suaminya kelhilangan selera makan.

"Mii, abbi sariawan nih lagi enggak enak makan. Sepulang kerja, suamiku menolak makan masakanku saat itu, padahal aku memasak ayam goreng kremes kesukaannya. 'Besok-besok masak sayur aja ya mi', aku hanya mengangguk tanda mengiyakan," tulisnya.

Pada April 2016, setiap hari suaminya selalu mengeluhkan sariawan di lidahnya yang tak kunjung sembuh hingga 2 minggu lebih. Setelah medical check up, dokter hanya mengatakan bahwa suaminya kurang nutrisi. Dilain sisi kebiasaan merokok dan begadang memperburuk kondisinya.

Tiga minggu berselang, sariawan lidah belum juga hilang. Malah sakitnya menjalar hingga kepala dan telinga. Setelah periksa ke dokter yang berbeda untuk kedua kalinya, dokter hanya mengatakan bahwa suaminya kurang makan sayur dan buah. Lalu dokter memberikan salep untuk luka sariawan di lidahnya dan mengatakan untuk kembali lagi jika dua minggu belum sembuh.

Dua minggu kemudian suaminya kembali periksa lagi karena sariawan masih menetap.

"Dokternya hanya menambahkan antibiotik. Tapi sampai obatnya habis juga belum ada tanda-tanda kesmbuhan. akhirnya suami saya di rujuk ke dokter bedah mulut," tulisnya.

Dokter bedah mulut menyarankan untuk di rontgen. Namun, hanya mengatakan bahwa masalah ada pada gigi suaminya yang tumbuh miring. Ada gigi susu yang akan tumbuh namun tumbuh abnormal sehingga dikatakan harus dilakukan pencabutan gigi.

"Juni 2016, saat awal Ramadan, suami saya tidak puasa karena cabut gigi. Namun seminggu pasca cabut gigi, sariawan juga tak kunjung sembuh, dan sakit kepala makin menjadi, ditambah lidahnya tak bisa digerakkan ke kanan dan ke kiri," ujarnya.

Kemudian untuk sekian kali, dokter gigi malah menyarankan untuk periksa ke dokter syaraf untuk masalah sakit kepalanya. Dan dokter syaraf memintanya untuk fisioterapi lidah, namun tetap tidak ada perubahan meskipun sudah 6 kali fisioterapi.

Benjolan Biji Jagung

Setalah Lebaran 2016, suaminya mengeluhkan benjolan yang tumbuh di lidahnya.

"'Mii, kok di lidah abbi jadi ada benjolan, coba lihat mii', benar, ada benjolan kecil sebesar biji jagung di lidah (suami saya) yang ada sariawannya.," ujar Rezy.

Diperiksakan lagi ke dokter, dan dokter menyarankan MRI dan menyebutkan bahwa kemungkian adalah tumor jinak, dan suaminya diminta untuk menjalani operasi.

"Awal Agustus 2016, aku menemani suamiku operasi di RS Jakarta. Setelah lewat 10 hari setelah operasi pengangkatan benjolan, kami kembali lagi ke RS," tulisnya.

Tanggal 13 Agustus 2016, Rezy kembali menumi dokter. Dan menyampaikan PAS dari laboratorium dan mengatakan bahwa suaminya terkena kanker. Akhirnya suaminya disarankan untuk berobat ke RS Dharmais.

"Serangkaian pemeriksaan kami lakukan, lab, usg, rontgen, ct scan, bone scan. Dari hasil pemeriksaan, 3/4 lidah suami saya sudah terkena kanker. Katanya suami saya harus di oprasi di angkat lidah," tulisnya.

Hasil endoskopi pun menyebutkan bahwa kanker suaminya bahkan sudah menyebar ke tenggorokan. Terlihat banyak benjolan di dekat pita suara.

"Ini sudah stadium 4, nanti bapak harus menjalani pengobatan kemoterapi 3 kali dan langsung radiasi selama 30 kali," tulis Rezy, menirukan ucapan dokter pada waktu itu.

Setelah 5 kali pengobatan, belum ada perkembangan. Rezy juga sempat mencoba pengobatan herbal namun karena berat badan terus menurun. Ia menghentikan pengobatan tersebut.

"Berat badan suamiku mulai turun drastis karena tak ada asupan makanan, sebelum sakit beratnya 65 Kg kini tinggal 40 Kg. Kondisinya makin parah dan puncaknya ketika aku lihat setiap hari suami muntah darah terus menerus. Ia pun terlihat lemas dan sangat pucat. Januari 2017, aku bawa ke dokter spesialis Onkologi yang ada di tasik. Dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit karena hasil HB cuma 5, suamiku mengalami anemia berat."

Setelah memutuskan untuk kemotherapi, kondisinya masih saja menurun. 25 juni 2017, saat itu hari raya idul fitri. Tiba-tiba suaminya mengeluh sakit kepala, dan esoknya mengeluh sulit menelan dan sesak napas. Dokter pun mengatakan angkat tangan dan hanya bisa menyarankan untuk melakukan radiasi. Hasil pemeriksaan CT Scan sudah menyebar ke otak.

Akhirnya pada 22 Juli 2017, pukul 16.40 suami tercintanya menghembuskan napas terakhir. (ren)