Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 13:44 WIB
  • Tinggal Dekat Restoran Bikin Tambah Gemuk, Benarkah?

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Bimo Aria
Tinggal Dekat Restoran Bikin Tambah Gemuk, Benarkah?
Photo :
  • REUTERS/Jason Lee
kfc - makanan siap saji

VIVA.co.id – Banyak orang menganggap bahwa akses yang mudah ke tempat makan, berpengaruh terhadap berat badan. Namun, ternyata hal itu tidak terbukti.

Tinggal di dekat restoran cepat saji dan supermarket, hampir tidak berdampak pada berat badan seseorang, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Health Affairs.

"Makanan cepat saji, umumnya tidak baik untuk Anda, dan supermarket menjual makanan sehat. Namun, hasil kami menunjukkan bahwa menghalangi pembukaan restoran makanan cepat saji baru, atau mensubsidi supermarket lokal tidak akan banyak mengurangi obesitas," kata Coady Wing dari Indiana University, Amerika Serikat, seperti dilansir Indianexpress, Kamis 10 Agustus 2017.

Tim peneliti mendasarkan temuannya pada Studi Lingkungan Bobot dan Veteran, sebuah database komprehensif yang membentang dari tahun 2009 sampai 2014 dan mencakup 1,7 juta veteran yang tinggal di 382 wilayah metropolitan di Amerika.

Para periset bisa menilai, bagaimana berat badan berubah dengan masing-masing veteran dan mencocokkannya dengan lokasi gerai makanan cepat saji dan supermarket seperti Walmart.

Para peneliti menghitung berat badan dengan menggunakan pengukuran tinggi, dan berat yang diambil saat veteran mengunjungi dokter, praktisi perawat atau penyedia lainnya.

Mereka menambahkan jumlah restoran cepat saji, supermarket dan gerai makanan lainnya dalam jarak satu mil dan tiga mil dari tempat tinggal orang tersebut.

Dengan informasi tersebut, para peneliti dapat melacak perubahan indeks massa tubuh (BMI), bahkan ketika seseorang berpindah dari satu area ke area lain dekat restoran makanan cepat saji, atau outlet lainnya dibuka atau ditutup.

Penelitian sebelumnya mengenai topik ini didasarkan pada foto pada waktu yang dikenal sebagai data cross sectional, dan menyarankan hubungan antara akses outlet makanan dan BMI.

"Kami tidak dapat menemukan bukti untuk mendukung kebijakan berdasarkan kaitan yang diduga itu," kata Wing. (asp)